Jumat, 17 Mei 2013

Tips Cara Menulis Buku Sebagai Sumber Acuan

Buku sebagai Sumber Acuan
Jika buku menjadi sumber acuan, kita harus memperhatikan
hal-hal sebagai berikut.
1. Nama pengarang dibalik (berdasarkan nama keluarga, nama
belakang) kecuali nama Tionghoa. Nama ditulis lengkap tanpa
menyebutkan gelar. Contoh:
􀀗 Masri Singarimbun menjadi Singarimbun, Masri
􀀗 Y.B. Mangunwijaya menjadi Mangunwijaya, Y.B.
􀀗 Cio Sin Kim tetap Cio Sin Kim
2. Jika dalam buku yang diacu itu tercantum nama editor,
penulisannya dilakukan dengan menambahkan singkatan (Ed.).
Contoh:
􀀗 Mahaso, Ode (Ed.). 1997.
3. Jika pengarang terdiri dari dua orang, nama orang pertama dibalik
sedangkan nama orang kedua tetap. Di antara kedua nama
pengarang itu digunakan kata penghubung “dan”. Jika lebih dari
tiga orang, ditulis nama pengarang pertama yang dibalik lalu
ditambahkan singkatan “dkk” (dan kawan-kawan). Contoh:
Sumardjan, Selo dan Marta Susilo.
4. Jika beberapa buku ditulis oleh seorang pengarang, nama
pengarang cukup ditulis sekali pada buku yang disebut pertama.
Selanjutnya cukup dibuat garis sepanjang 10 ketukan dan diakhiri
dengan tanda titik. Setelah nama penga-rang, cantumkan tahun
terbit dengan dibubuhkan tanda titik. Jika tahunnya berbeda,
penyusunan daftar pustaka dilakukan dengan urutan berdasarkan
yang paling lama ke yang paling baru. Contoh:
􀀗 Keraf, Gorys. 1979.
􀀗 _________ . 1982.
􀀗 _________ . 1984.

Jika diterbitkan pada tahun yang sama, penempatan urutannya
berdasarkan pola abjad judul buku. Kriteria pembedaannya
adalah setelah tahun terbit dibubuhkan huruf, misalnya a, b, c
tanpa jarak. Contoh:
􀀗 Bakri, Oemar. 1987a.
􀀗 __________ . 1987b.
5. Jika buku yang dijadikan bahan pustaka itu tidak menyebutkan
tahun terbitnya, dalam penyusunan daftar pustaka disebutkan
“Tanpa Tahun”. Kedua kata itu diawali dengan huruf kapital.
Contoh:
􀀗 Johan, Untung. Tanpa Tahun.
6. Judul buku ditempatkan sesudah tahun terbit dengan dicetak
miring atau diberi garis bawah. Judul ditulis dengan huruf kapital
pada awal kata yang bukan kata tugas. Contoh:
􀀗 Keraf, Gorys. 1979. Lebih Lanjut dengan Microsoft Word
97 atau
􀀗 Keraf, Gorys. 1979. Lebih Lanjut dengan Microsoft Word
97
7. Laporan penelitian, disertasi, tesis, skripsi, atau artikel yang
belum diterbitkan, di dalam daftar pustaka ditulis dalam tanda
petik. Contoh:
􀀗 Noprisal, Hendra. 1984. “Pembangunan Ekonomi
Nasional”.
8. Unsur-unsur keterangan seperti jilid, edisi, ditempatkan sesudah
judul. Keterangan itu ditulis dengan huruf kapital pada awal kata
dan diakhiri dengan tanda titik. Jika sumber acuan itu berbahasa
asing, unsur-unsur keterangan diindonesiakan, seperti “edition”
menjadi edisi, “volume” menjadi jilid. Contoh:
􀀗 Mochtar, Isa. 1983. Pengantar Ekonomi. Cetakan Kedua.
􀀗 Rowe, D. dan I. Alexander. 1967. Selling Industrial Product.
Edisi Kedua.
9. Tempat terbit sumber acuan, baik buku maupun terbitan lainnya
ditempatkan setelah judul atau keterangan judul (misalnya jilid,
edisi, nomor majalah). Sesudah tempat terbit dituliskan nama
penerbit dengan dipisahkan tanda titik dua, kemudian diikuti
dengan tanda titik.
Jika lembaga penerbit dijadikan nama pengarang (ditempatkan
pada lajur pertama), maka tidak perlu disebutkan nama penerbit
lagi.
Daftar Pustaka tidak diberi penomoran. Pengurutannya berdasarkan
alfabetis nama pengarang. Contoh:
Ananta Toer, Pramoedya. 2001. Perawan Remaja dalam
Cengkeraman Militer. Jakarta: Kepustakaan Populer
Gramedia.
Biro Pusat Statistik. 1963. Statistical Pocketbook of Indonesia.
Jakarta.
Koentjaraningrat (Ed.). 1977. Metode-metode Penelitian
Masyarakat. Jakarta: Gramedia.

Title Post:
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Author:

Terimakasih sudah berkunjung di blog SELAPUTS, Jika ada kritik dan saran silahkan tinggalkan komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

  © Blogger template Noblarum by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP  

ad8d337c32e240c9ae465ea741f05202 submit to reddit