Tampilkan postingan dengan label Philosophy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Philosophy. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Desember 2012

The Classical Nature of Modern Sociology


Modern sociology is classical because its theory is still classical. Like classical sociologists, modem sociologists still nearly always explain human behavior teleologically-as a means to an end. They still nearly always explain human behavior psychologically-as something that arises at least partly in the human mind. And they still nearly always explain human behavior individualistically-as the behavior of people. Although social factors (such as the distribution of resources, the structure of relationships, and the content of culture) usually play a role in sociological explanations, their relevance is nearly always teleological, psychological, and individualistic.

Teleology is the superparadigm of sociology (see Black 1995: 861-63). Virtually all sociological theories assume, assert, or imply the existence of human goals and explain human behavior accordingly. Some attribute goals to groups rather than individuals, but the explanations remain teleological, a matter of means and ends. Human behavior is said to be the successful or unsuccessful fulfillment of a motive, preference, purpose, interest, value, need, or function by an individual, aggregate, or group. Criminal behavior is the conscious or unconscious pursuit of a criminal's goal, for example, and the same applies to political, religious, economic, and every other kind of behavior in every setting, whether a face-to-face encounter, family, organization, institution, society, or international community.

Virtually all sociological explanation is explicitly or implicitly psychological and individualistic as well (see Homans 1964). Such is the classical tradition. Weber asserts, for instance, that sociology is the "interpretive understanding of social action" and that "subjective understanding is the specific characteristic of sociological knowledge" ([1922] 1978, Vol. 1: 4, 15, 13). Durkheim asserts that "everything in social life rests on opinion. . . . We can make opinion an object of study and create a science of it; that is what sociology primarily consists in" ([1912] 1995: 439). Both continually refer to human psychology-subjectivity-in their writings. Examples are Weber's theory of the origin of capitalism ([1904-05] 1958) and Durkheim's theory of suicide ([1897] 1951), two of the most famous and revered works of classical sociology. In particular, both address the psychology of goal-seeking individuals. And virtually all modem sociologists do the same. What they call social behavior is nearly always individual behavior, what they call social action is nearly always personal action, and what they call social theory is nearly always psychological theory (see Black 1995: 848-50). If published today, Weber's and Durkheim's major works would still be widely celebrated.

Expect no sociological revolution until sociology abandons the classical tradition. Expect nothing profoundly new or wildly exciting-no breakthroughs in the understanding of human behavior. Expect nothing shocking, nothing controversial. Expect only more of the same, a repetition of old ideas, an involution rather than a revolution in sociological theory. Classical sociology was new and exciting a century ago, but now it is a dead end. It tells the same story over and over: The social environment has this or that impact on how people pursue their goals. Moreover, whatever teleological, psychological, and individualistic sociology may have accomplished in the past, sociologists have always been largely unable to explain the spectacular diversity of social life across the world and across history in the countless societies that have existed-the diversity of culture, for example, including the diversity of religion and art, the diversity of conflict and violence, of families and other groups, political life, economic life, sexuality, or sport. And where is the sociological theory applicable to every conceivable instance of anything across the social universe, past, present, or future? Where is the theory unimaginable a century or half-century ago? Because it follows the classical tradition, modernsociology is unable to discover anything radically new. Everything is completely normal. Nothing amazes anyone. The field is frozen in scientific time.




Rewrite from Contemporary Sociology  
 



Title Post:
Rating: 100% based on 99998 ratings. 99 user reviews.
Author:

Terimakasih sudah berkunjung di blog SELAPUTS, Jika ada kritik dan saran silahkan tinggalkan komentar

Kamis, 07 Juni 2012

DEFINISI – ARTI - PENGERTIAN ESTETIKA - AESTHETICA

aesthetica estetika

Dalam makna modernnya, estetika sering dipahami sebagai disiplin filsafat, yakni filsafat fenomena estetika (objek, kualitas, pengalaman dan nilai), atau filsafat seni (kreativitas, karya seni, dan persepsinya) atau filsafat kritik seni dalam pengertian luas (metakritisisme), atau disiplin yang terkait secara filosofis dengan ketiga bidang itu sekaligus. Refleksi estetis telah ada sebelum hadirnya istilah itu sendiri. Seiarah estetika Barat biasanya dimulai dengan Plato, yang tulisannya memuat refleksi sistematis terhadap seni dan teori spekulatif tentang keindahan. Tetapi, Plato atau muridnya, Aristoteles, tidak membahas dua tema besar estetika ini secara bersamaan. Istilah "estetika" diperkenalkan ke bidang filsafat pada pertengahan abad ke-18 oleh filsuf Jerman, Alexander Gottlieb Baumgarten (171.4-1.762). Baumgarten, murid dari Christian lVolff (1,679-1,754) yang dipengaruhi Leibniz, menyimpulkan bahwa sistem disiplin filsafat tidak lengkap dan membutuhkan ilmu yang seiajar dengan logika, yakni ilmu tentang kognisi yang jelas dan berbeda yang bisa didapat melalui akal. Ilmu baru ini adalah estetika, ilmu tentang kognisi (kesadaran) akan sesuatu yang jelas dan sesuatu yang tidak jelas, yang disadari melalui indra. Pandangan ini pertama kali dikemukakan oleh Baumgarten dalam disertasinya, Meditationes philosophicae de nonnullis ad poema pertinentibus (1753) dan dalam buku puisi yang terbit 15 tahun kemudian, Aestbetica. Namun, berbeda dengan makna dari etimologi istilah ini (kata Yunani aistbetica - persepsi), karya filsuf ini tidak berhubungan dengan teori kognisi indrawi, tetapi dengan teori tentang puisi (dan secara tak langsung, dengan semua bentuk seni) sebagai bentuk kognisi indrawi. Objek persepsi utama dari kognisi indrawi ini adalah keindahan. Kombinasi dari kedua hal itu-yakni refleksi terhadap seni dan refleksi terhadap keindahan-meniadi dasar bagi perkembangan cabang filsafat yang baru. Namun kombinasi ini, selain melahirkan pemikiran cemerlang, jr.rga sekaligus menimbulkan kesulitan teoretis dan metodologis yang tak pernah usai. Jelas ilmu baru itu adalah peristiwa bersejarah, menandai awal periode baru dalam perkembangan filsafat seni, dan terutama karena ilmu ini berbarengan dengan lahirnya karya yang meringkaskan pencarian panjang akan denominator umum dari segala bentuk seni. Prestasi ini dicapai oleh ahli teori dari Perancis, Charles Batteux, melalui karyanya yang berjudul Traite des beaux arts redwia un meme principe (17461. Batteux mengakui bahwa ciri umum dari seni adalah keindahan yang meiekat di dalamnya, dan karenanya seni itu bisa disebut sebagai beaux arts. Nama estetika diterima selama beberapa waktu. Immanuel Kant ('J,724-7804 mengawali kritik terhadap Baumgarten yang dianggapnya kurang konsisten, dan dalam karyanya yang berjudul Critique of Pure Reason (1781 dan 1787) dia menggunakan istilah estetika transendental yang berarti ilmu filsafat tentang persepsi indrawi. Akan tetapi, dalam Critiqwe of Pure Reason (1790) dia menggunakan istilah estetika untuk mendefinisikan refleksi tentang keindahan dan penilaian selera. Makna tradisional dari estetika menjadi populer pada abad sembilan belas lewat pengaruh Hegel (1,770-1,883), yang kuliah-kuliahnya tentang filsafat seni (fine art) pada 1820-9 dipublikasikan setelah dia meninggal dengan iudul Vorlesungen ilberdie Asthetih (pada 1835). Kant, Schelling dan Hegel adalah frlsuf utama pertama yang meniadikan estetika sebagai bagian inheren dalam sistem filsafat mereka. Menurut Kant, estetika adalah teori pertama dan utama tentang keindahan, tentang kehalusan dan penilaian estetika. Bagi Hegel, estetika terutama adalah filsafat seni. Dua model estetika itu, yakni sebagai filsafat keindahan (dan nilai estetika) dan filsafat pengalaman estetika, atau sebagai filsafat seni, telah meniadi dominan dalam kajian estetika pada abad ke-19 dan awal abed ke-20. Dua varian itu kebanyakan dipadukan dan hasilnya amat bervariasi. Tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, gagasan estetika sebagai filsafat seni tampaknya meniadi lebih populer Pada abad ke-19 ada usaha pertama untuk melampaui filsafat dalam rangka mengkali estetika dan untuk menciptakan ilmu estetika tersendiri. f)alam Vorschule der Aesthetik yang terbit tahun 1875, 6lsuf Jerman Gustav Theodor Fechner berusaha membuat bidang estetika eksperimental berdasarkan psikologi. Abad ke-20 rnenjadi saksi dari munculnya upaya untuk menciptakan ka jian estetika psikologis oleh tokoh dari psikologi gestalr (Rudolf Arnheim dan Leonard Meyer) dan tokoh psikologi mendalam (Ernst Kris dan Simon Lesser). Perkembangan lainnya melibatkan estetika matematika (George Birkhoff dan Max Bense), estetika informatik (Abraham Moles), estetika semiotik dan semioiogis (Charles Morris, Umberto Eco,Yuri Lotman), dan estetika sosiologis (J'M'Guyau, P. Francastel, Pierre Bourdieu, Janet Wolff).

Dalam domain filsafat, proyek penciptaan ilmu estetika ilmiah dilakukan oleh Etienne Souriau dan Thomas Munro' Akan tetapi, estetika tidak berhenti hanya sebagai cabang dari filsafat. Seiak pergantian abad, muncui banyak perhatian pada kesulitan metodologis dalam estetika, yang mulai menimbulkan keraguan dan argumen nenentang status ilmiah dari estetika dan penciptaan teori estetika. Yang secara khusus relevan disini adalah gagasan Max Dessoir (1906) dan Emil lJtitz (19t4-20) yang masih populer. Kedua pemikir ini memperkenalkan perbedaan antara estetika dengan ilmu seni umum dan menegaskan bahwa kedua bidang itu saling bersinggungan tetapi tidak tumpang tindrh (ouerlap): fungsi seni tidak bisa direduksi meniadi fungsi este- tika saia, sedangkan nilai estetika dapat ditemukan dalam obiek yang tidak selalu berupa karya seni, seperti fenomena alam dan produk manusia yang memiliki nilai artistik. Mereka iuga mengkiaim bahwa ilmu seni umum secara metodoiogi berbeda dengan estetika dan harus dikembangkan sebagai cabang yang lepas dari filsafat, Estetika iuga seharusnya keluar dari batas-batas filsafat dan lebih banyak memanfaatkan gagasan yang dihasilkan oleh ilmu lain, terutama psikologi dan sosiologi (lihat juga Anr, Soctolocv oE). Ahii estetika pertama yang bukan hanya mensistematisasikan keberatan terhadap estetika tetapi iuga berusaha mengatasi keberatan itu adalah Edward Bullough, lewat kuliah-kuliahnya pada 1907 tentang "rnodern conception of aesthetics" (dalam Bulloughj !9571. Dia membagi keberatan terhadap estetika itu meniadi dua kelompok: kelompok populer dan teoretis, dan keduanya dapat direduksi meniadi pernyataan berikut ini:

1. Usaha apa pun untuk membuat teori fenomena yang spesifik, relatif, subjektif dan mudah berubah sebagai sebuah efek estetika dan efek kesenangan dan ketidaksenangan yang berkaitan dengan fenomena itu adalah usaha Yang sia-sia.

2. Definisi keindahan dan fenomena estetika lainnya adalah terlampaui abstrak dan umum dan karenanYa tidak berguna dan secara praktis tidak perlu' Definisi itu tidak membantu siapa pun untuk menikmati keindahan dan seni'

3. Baik itu seniman maupun penikmat seni merasa gelisah dan iengkei oleh fakta bahwa aturan-aturan kreasi dan resepsi didefinisikan dan dikenakan pada seniman dan Publik, dan bahkan disaiikan dengan gaqa Yang soA keilmuan yang absurd dan angkuh'

Karya Bullough adalah kalian pertama yang meringkas kesulitan metodologi internal dari estetika' dan keberatan yang datang dari luar dunia akademi, meski tidak selalu dapat dijustifikasi, adalah ke- beratan yang bukannya tanpa alasan' Menurut Stefan Morwaski (1987)' karya Bullough mengawali periode ketiga dalam seiarah estetika, periode kritik-diri atas status riset, dan peri<,rde perkembangan refleksi-diri metodologisnya. Proses ini mencapai puncaknya pada 1954 dengan publikasi antologi Elton yang terkenal, Aesthetics and Language, dan iuga paper M. Weitz yang berjudul "The role of theory in aesthetics"(1956) dan paper'V/. E. Kennick, "Does traditional aesthetics rest on a mistake?" (1958), yang meneruskan dan mengembangkan ide-ide yang dikemukakan oleh Elton. Ketiga karya ini diilhami oleh gagasan Wittgenstein dalam karyanya, Philosophical lnuestigations (I953), dan mereka mengkritik estetika filosofis tradisional secara tajarn dan menyeluruh dengan menudingnya sebagai kajian yang kurang presisi bahasanya, konsepnya kabur, dan adanya kesalahan asumsi teoretis dan metodologis yang tampak mencolok dalam usaha membuat teori filsafat seni.

Asumsi yang keliru menyebabkan kegagalan teori seni yang lahir dari asumsi itu. Asumsi pertama yang keliru adalah klaim kaum esensialis bahwa seni mengandung sifat universal, atau esensi absolut. Tugas ahli estetika adalah menggali dan mendefinisikan esensi itu. Seni, kata pengkritiknya, adalah fenomena yang senantiasa berubah, tidak mengandung esensi universal, dan karenanya gagasan tentang "seni," "karya seni," "pengalaman estetika," dan seienisnya, adalah gagasan yang terbuka (I(eitz, 1959) dan tidak dapat didefinisikan. Kedua, estetika tradisional melupakan kebenaran dasar lainnya yakni bahwa setiap karya seni itu dinilai berdasarkan keunikan dan orisinalitasnya yang tak bisa diulang, dan karenanya tidak ada ruang untuk penetapan aturan umum dan evaluasi umum atas karya-karya semacam itu. Akan tetapi, ahli estetika tetap bersikukuh dalam usahanya untuk menemukan atau membuat aturan umum itu, walaupun setiap upaya generalisasi tentang seni adalah upaya meragukan dan tidak bisa dilustifikasi. Argumen ahli estetika adalah analog dengan argumen dalam etika, tetapi setiap analogi tampaknya akan menyesatkan. Generalisasi dalam etika adalah dimungkinkar.r dan diperlukan, sedangkan dalarn estetika, situasinya amat berbeda. "Ketika dalam estetika kita bergerak dari yang khusus ke yang umum, maka kita berarti berjalan dalarn arah yang salah" (S. Hampshire, dalam Elton, 1954). Ketiga, ahli estetika mengikuti filsafat dengan asumsi yang keliru, yakni bahwa fakta dapat diungkap dan diinterpretasikan, padahal tr.rgas sebenarnya adalah bukan mengungkap fakta tetapi mengklarifikasi makna kata. Kata, konsep, dan ekspresi dipakai dalam sejumlair cara yang tidak selalu pas. Problem dasar estetika bukanlah bagaimana menjawab pertanyaan "Apa itu seni?" tetapi "Konsep apa yang merupakan seni?" (\feitz).I(ritik terhadap al.rli estetika berdasarkan filsafat analitis, bagaimanaprrn jrrga,tidak menyebabkan matinya estetika ataLl kemenangan abadi minimalisme kognitif dan tidak rrenghalangi usaha-usaha baru untuk membuat teori seni. Bahkan kita barangkali bisa mengatakan bahwa kritik etika anti-esensialis itu justru memunculkan kebangkitan dan perbaikan pada 1970- an d:rn 1980-an. Namnn, pada saat yang sama, estetika terus dikritik dari iuar dan ahli estetika masih melaniutkan refleksi diri metodologisnya yang sebagian dilakukan untuk n.reniawab kritik eksternal dan sebagian lagi untuk memenuhi kebtrtuhan yang muncul dari dalam estetika itu sendiri. rWalau demikian, ahli estetika menolak semua keberatan dasar yang diungkapkan oleh filsuf analitis. Estetika seharusnya, dtrn memang, dapat dipraktikkan dengan ketepatan logis dan linguistik, tetapi pada saat yang sama ia tidak dapat direduksi menjadi sekadar analisis konsep dan analisis terhadap cara penggunaartnya. D:rlam hal ini, situasi estetika tidak banyak berbeda dengan cabang ilmu kemanusiaan lainnya. Adalah keliru lika seseorang menerapkan ketentuan yang berlaku dalam ilmu aiam atau matematika ke dalam ilmu estetika. Lebih jauh, bahkan dalam ilmr.r alam sekalipun, tidak ada paradigma tunggal dan universal dalam hal ketepatan ilmiah' Seseorang harus menyadari bahwa setiap upaya generalisasi terhadap fenomena yung ,".tg", beragam dan mudah berubah seperti seni dan pengalaman estetika adalah upaya yang amat berisiko, tetapi general- isasi itu tidak harus diabaikan sepenuhnya' Menghindari definisi esensialis dan antihistoris terhadap estetika tradisional itu bukan berarti meninggalkan usaha untuk membuat teori seni dan fenomena estetika' Pertimbangan normatif yang membahayakan kebebasan kreasi, yang iuga pertimt"rrg"n yang kerap dinisbahkan kepada estetika, adalah bukan karakteristik seni dan lebih sering muncul dalam kritik seni' Tetapi, adalah benar bahwa mayoritas teori estetika memuat elemen evaluasi' Tetapi sekali lagi, aspek aksiologis adalah lazim dalam setiap disiplin ilmu dan membentuk bagian organik dari kognisi. Mereka tidak bisa, dan tidak perlu, dieliminasi dari ilmu pengetahuan. Pada saat yang sama' adalah mustahil untuk membuat teori seni yang benar-benar murni (Dickie ' 197L)' Ahli estetika' sembari menolak kritik estetika oleh filsuf analitis, iuga secara periodik mencatat kritik dan keberatan yang dialamatkan kepada disiplin ilmu mereka, dan mereka mengekspresikan keraguannya sendiri terhadap status risetnya' Namun dalam kebanyakan kasus' mereka membela manfaat risetnya, walau ada yang suka melakukannya dalam bentuk yang sudah dimodifikasi sebagian atau sepenuhnya' Setidaknya ada tiga usaha yang patut dicatat dalam rangka menyeimbangkan argumen pro dan kontra yang dibuat oleh Ihli estetika dalam tiga dekade terakhir ini.

Usaha Pertama adalah oleh Jerome Stolnitz pada 1960 dalam bukunya Aesthetics and Philosophy of Art Criticism (h'7-19). Sedangkan yang kedua oleh Stefan Morawski dalam dua karya yang diterbitkan dalam bahasa Polandia (1973,1987\'Tetapi kesimpulan dua karya Morawski itu terbeda; dalam karya pertama dia membela signifikansi estetika' sedangkan dalam karya kedua dia meninggalkan pembelaan ini dan berargumen bahwa iignifikansi itu mulai menurun. Penulis ketiga yang mendaftar keberatan-keberatan yang muncul, dan membela estetika dalam menghadapi keberatan itu, adalah Goran Hermeren, yang mencurahkan bab terakhir dari bukunya Aspects of Aesthetics (1983, h. 224-60\ untuk persoalan ini' Ada banyak keraguan dan keberatan terhadap estetika yang terus muncul berulang-ulang. Juga ada kritik baru yang muncul dalam perkembangan kultur modern dan seni auant-garde, media massa dan kebudayaan massa. Kritik terbaru mengandung dua aspek. Yang pertama' keberatan utama masih berkaitan dengan status estetika sebagai bidang riset' Peng- kritik menegaskan bahwa memahami estetika secara kognitif adalah kesia-siaan, anakronistik dan tidak memadai, metodenya usang dan didasarkan pada prinsip metodologi yang salah' Konsekuensinya, bahkan misalnya estetika pernah membuat pencapaian, capaian itu ridak bisamemb"ntu ketika berhadapan dengan kemunculan gerakan auant-garde mutakhir di bidang seni dan dengan fenomena kebudayaan massa. Jadi estetika mengabaikan hal baru itu (sikap yang tidak pantas) atau mungkin berusaha mendeskripsikannya, *.ntin,.rp..,asikannya, dan mengevalu"riny, d.ng"n menggunakan tradisional dan kategori tradisional yang sudah tak lagi relevan, yang karenanya melahirkan kegagalan yang memalukan' Jenis kritik ini dapat diiumpai dalam paper oleh T. Binkley, dalam karya Michael firby The Art of Time (1969\ dan karya terakhir dari Stefan Morawski'Kirly berpendapat bahwa estetika filosofis tradisional harus diganti dengan estetika historis atau situasional. Binkley mengklaim bahwa estetika dapat bertahan iika ia mereduksi cakupan perhatiannya ke refleksi atas fenomena estetika dan meninggalkan usaha menciptakan teori seni' seLab estetika tidak dapat menielaskan seni auant- gar de,yang menolak paradigma seni menurut estetika jika estetika menggunakan asumsi bahwa hakikat dari seni adalah estetika, Morawski mengklaim bahwa estetika mengalami penurunan bukan hanya karena ada seni auant-garde tetapr. Juga karena seni "telah kehilangan sebagian signifikansinya dan eksistensinya sedang terancam." Estetika, karena itu, harus memberi tempat bagi "poietics" sebagai teori kreativitas atau bagi pemahaman anti-estetika tentang "refleksi kritis terhadap krisis kultur dan seni di masa kita" (1987, h. 77 l. Bukan metodologi penyebab utama dari penurunan estetika; penyebab pokoknya adalah disintegrasi objek utamanya: seni. Akan tetapi, estetika dikritik bukan hanya karena ketidakberdayaannya dalam menghadapi seni auant-garde, tetapi juga karena sikapnya yar'g ahistoris (abistoricall, karena "mencari totalitas" (Verckmeister, 1971), karena esensialisme dan membuat aturan abstrak yang tidak menghargai fakta bahwa "seni adalah sindrom yang dinamis" (Adorno, 1984). Seni itu sendiri dan penerimaannya adalah produk dari proses seiarah (Bourdieu, 1979). Jrka estetika ingin tetap bertahan, ia harus berubah meniadi estetika dialektis (Adorno) atau estetika sosiologis (Bourdieu). Jenis argumen lain yang menentang estetika menyatakan bahwa tidak seorangpun yang benar-benar membutuhkan estetika. Estetika tidak membantu penerima seni modern untuk mencari pemahaman di tengah chaos fenomena artistik modern. Seseorang yang serius di bidang estetika akan lebih baik meruiuk pada karya sejarah dan teori bidang seni tertentu, atau pada psikologi seni, sosiologi seni, filsafat Curruns (kebudayaan), teori komunikasi massa, semiotika, dan sebagainya. Sulit untuk meramalkan masa depan estetika. Tetapi tesis tentang kematian atau penurunan estetika juga sama lemahnya dengan tesis tentang kematian atau penurunan seni. Tetapi estetika harus berubah, dengan mempertimbangkan transformasi subjek kajiannya dan prestasi disiplin ilmu lain yang berkaitan dengan seni dan fenomena estetika. Mungkin kita harus kembali ke gagasan dari dua bidang, gagasan Dessir dan Utitz: nilai dan pengalaman dari filsafat seni dan filsafat estetika. Tetapi tidak ada keraguan bahwa perkembangan psikologi, sosiologi, semiotika, dan disiplin lain yang terkait dengan seni tidak akan menghapuskan problem filosofis (aksiologis, metodologis, kognitif, dan ontologis) dari seni dan fenomena estetika. ini adalah raison d'etre yang kokoh dari estetika.

Title Post:
Rating: 100% based on 99998 ratings. 99 user reviews.
Author:

Terimakasih sudah berkunjung di blog SELAPUTS, Jika ada kritik dan saran silahkan tinggalkan komentar

Selasa, 29 Mei 2012

LOOKING FOR ENEMIES TOGETHER



Religion should not antagonize each other when we realize
that we live in one nation and one people, one country,
namely: Indonesia as a nation are always fighting
Republic of Indonesia, with the noble motto;
"Unity in Diversity", the existing religions in Indonesia true
not hostile to each other.

On the contrary, we come together to seek common enemy.
Any religion will never made ​​it to the mission
against humanity if busy other religions have true
the same mission. The same mission, should be in the enemy barengi
as well. Thus, religions would not want to agree to
against injustice, corruption, oppression and extortion. presence
The same satirical enemies can become a place that gave birth to a true dialogue
interfaith. Complexity of the reality of our nation, for example, the number of
population, diverse cultures and religions. level of welfare, should be
forcing us to live in a true dialogue.

In the midst of moral politician bobroknya Indonesia, we
hoping that the critical voices raised by many parties. because
decisions on political elites have to get
merekayafigbersuara attention of the prophet. Where it comes from
voice is that? None other than the voice dialog
interreligius. The emergence of a critical character, intelligent, sincere at the same time without
strings attached to the criticism and ideas they express love
them to the nation of Indonesia was born of humans bercgama
which tidakmementingkan self and group egoism. Evidence of the
demekian people is that they are open to dialogue. appropriate
to be suspected if there is a sound like a religious prophet, but
not open to dialogue interreligius.

Title Post:
Rating: 100% based on 99998 ratings. 99 user reviews.
Author:

Terimakasih sudah berkunjung di blog SELAPUTS, Jika ada kritik dan saran silahkan tinggalkan komentar

Rabu, 19 Oktober 2011

NATURAL-BORN PHILOSOPHERS


How can they sleep at night after a five year old son, I have
I turned and asked, "Dad, how was the first man-made?"
Surprised by his question, I asked Jake to explain the mysterious
It is. "OK," he said, "You and mom, my parents and Grandma and Grandpa
[His name, his grandfather] to your parents. They had

Parents too. But what about the people first? How did they do? "
Surprised by his interest in the philosophical problem, I began to discuss
Several theories have been proposed as the answer to that. On
We're ready and happy, that he was ready to leave to a minimum
When the question and go to sleep.
If anyone in the history of Western philosophy, it is clear
My son is adapted to that question is given by the

Philosophers, and how human life began at least 2,500 years, and how?
Jake, he understood that my wife has the existence of his
And I, and we were each in their original. Unlike our parents
Parents, and much more. However, at one point, you are facing
Seemingly insoluble dilemma: the two series will go on forever, but the
This is due to an infinite number of ways, such as
For the people now? Or is there a point
There are two people who have no parents, and started the whole human race, but where they came from? Which he
The world in the spring?
Of course, this number to refer to the Preference Point
God, as a reason to accurately because it call for the Supreme Court
They are nothing but a man, including the ability to create objects.
However, the scientific method in the world, my son, and knew
He explains the origin of the image that God would bring to quit
Of human life. What people are talking about the theory of evolution
The transition from ape result, first by placing them in the bay
Finally, it can also be applied directly to the concerns about the
Nirjivi may occur in the universe.
Jake the age of five questions, showed me that he had been bitten
Wrongly, as 'philosophy', that is, it is not surprising to me. There
To my surprise the number of different reasons. First I was really
Not motivated by any of the Jake this question actually is beaten
ಗೊಂದಲವನ್ನುಂಟುಮಾಡಿತು
By me. I used to struggle to get a Teachers College
The students see the value of the principle of confidentiality. Perhaps the five-year
Child, I thought, like Jake really early -
A more intuitive understanding of the philosophical problems of my own university
Students?
I was surprised by Jake acquired
ಗೊಂದಲವನ್ನುಂಟುಮಾಡಿತು no stickiness
This is the problem. After our conversation that evening, because it shows
The drop. He did not just continue to listen to generate more
Man, but he began asking questions about issues
As time and space is infinite. Again I was surprised
I understand that five years have seen a lot that I
Questions of principle, everything to do with the respective infinite.
Jake is probably the fact that no young children, I
protophilosophers?
The answers we really need to think about philosophy
There. At its most basic level, an attempt to address the fundamental philosophy
How can we in our life, the mysteries of the world.
Have arisen about how human life is the question bothers Jake
In the theoretical existence. But research
Finally, philosophers of our thinking about the problem and correct
They can also, if we abstract the question of aid
But the situation is that the final decision. Through these questions, the question for philosophers, they are very annoying, they are my son,
ಗೊಂದಲವನ್ನುಂಟುಮಾಡಿತು
This is an attempt to understand the world.
It suggests that people who never developed philosophers
There is a very mysterious place in the world, that sense of
There are many questions that require answers. For the most part, people seem to be
Paul's first letter is usually content to follow the implicit advice
Corinthians:
I am a child, I spoke to a child, I understood as a child, but
. Barclay said, I became a man, I was away childish things (1 Corinthians 13:11 put
, 2002).
Philosophers, but retain their juvenile behavior questions
The world. In the sense that they want and nidadiralu
It was only in business to "get" page for a drop in demand
An adult.
There is a philosopher at odds with the image of overgrown child
For example, if a large bearded old man, the sacred image
Raphael School of Athens' most famous painting. Forward to Plato,
The audience, in fact there is a sense among philosophers and
Large, appropriately, in his late philosophy palisalaguvudilla
Of life. The idea that philosophers should consider the material
As long to deliver. I hope comes of age
Philosopher, which is characteristic of wisdom.
This book is written from the conviction that the philosophy of trying to keep
If the former are special, special, or at least a college
Age of gross negligence, the consequences of our life is a time of deep
Society in which human beings, and we directly. For example, Jake
Shows a young philosophy course and consider the
They can not legally keep, so we can help you do what the
Rather than the interests of the tobacco.
My efforts to promote teaching of philosophy at the heart of the belief that there is a
Primary schools. Basic education is often thought that
And basic social skills that children learn the location of
The three R's - reading Fundamentals, 'riting and' rithmetic Cricket
The very aspects of the education of a child can be harmful
Agamanavaguttade. Teaching children at the time of the first encounter of the first years of formal education and lifelong their relationship
Knowledge and education is indelibly formed during this period. To
Not fair is a place of learning, to introduce the joys of young students
They can damage the end of his life.
Due to the natural curiosity of children born, it is important that
The advantage of this aspect of their work. There are no schools in the development of highly
To demonstrate that their young charges in the process, self-
By them during their formal education in the spirit of agriculture
Their research provides management and administration. Not
School, we had to show the school
Way of thinking about them, they can find and help solve problems
They face to grow and develop naturally.
But only those who benefit from child
Elementary introduction to philosophy. The Association
The whole is more critical, skeptical citizens will reap the benefits of
Learned to trust the authorities, not only because of their social
Place, but the evidence and see their reasons.
Democratic society can not give her the opportunity to grow in the future citizens
Sense that all answers to the television offer
They have to.
Republic (1961), Plato (429-347 BC) a famous speech in
Philosophers as well, there's no justice in the world where it's safe to say
Were kings. Here I will do the same bold claim that:
Education for every student of the philosopher, until we meet her ideals.
The social vision of Plato the kings who were dependent on
This applies to our democratic society, citizens need to have
It is not only theoretical education as an independent, critical thinking, can be
Of products.
Whether you are idealistic, I know that voice. Especially in the
Standard tests of the Convention, in which age, the teacher must
Ikeyannu not what to learn more and more tests to verify and
It is possible that this is a true love of learning in their classes,
Philosophy to introduce elementary school curriculum? What is the point
Philosophy applies to adding to our already overburdened teachers
Already crowded curriculum, including the traditional content
Mathematics and language skills, as supplemented by
Multiculturalism and other important matters? I'm in the box because of the fears, the philosophy is fantastic
It's primary schools, there is no content has been added to the existing
Language Arts curriculum, therefore, mathematics, science and. Instead, the
Philosophy of teaching materials and methods Primary School
Already been added, especially in the quality of primary school curriculum, which
The art of language. Arnold is due to the use of children's books, I
Frog Toad Together Lobel (1999), and to provide a Shel Silverstein
Wood (1964), already widely used in elementary school books
Classes for children to stimulate philosophical debate
Philosophy teachers do not locate where the image
Days, their instinct. She has to be done to the art of language to rebuild
The lessons they learned.
Furthermore, children's books to promote the use of philosophical debate
Children to express their views and the chance to justify
Solidity of the main issues (as discussed stories
Together with the frogs and toads) to take other appropriate behavior
Alive (Giving Tree has grown), but it strengthens the other all
Primary school curriculum areas. For example, learning to speak
Philosophical questions, such as the development of language skills, students
Most of the emphasis that the primary school curriculum. They learn to demonstrate
He backed up the best of reasons, and clearly discuss their problems in their
Other reasonable means, with Views. Students will learn how to
They claimed that the evidence presented to determine, but
Only power, it is books or people, as they say, was to receive
So. In theory, the formation of the nine years of complex and
Most people believe that more can be a critical thinker.
This book is intended as a guide if you have the opportunity to teach philosophy
Primary school children. After some debate
I have several ways to do this, I go to that set of seven picture books
And you can use the school chapter of the book to learn
Introduction to Philosophy course.
"How can I teach philosophy at the school, and I already hear your thoughts
Children? Any philosophy that I never took place at the end of the school. I was
Know where to begin. Although I have much interest in philosophy
Student, I was never able to understand what philosophers
Talking about. I said I know he's not interesting to learn
The idea to teach, you need to know the philosophy that you promised to "be
It is! I mean the most to that statement, but not quite, there is
Is true. As you can tell from this book, the children read
How do you help them if they learn the philosophy of promoting
Each other theological issues. So, in your own bidabedi
More knowledge, or anyone stand in your philosophy
The road. Using that philosophy is your students'
Discuss it!

Title Post:
Rating: 100% based on 99998 ratings. 99 user reviews.
Author:

Terimakasih sudah berkunjung di blog SELAPUTS, Jika ada kritik dan saran silahkan tinggalkan komentar

Rabu, 16 Februari 2011

EGO, EGOCENTRICITY, AND SELF-TRANSCENDENCE : A WESTERN INTERPRETATION OF EASTERN TEACHING

Ego, Egocentricity, and Self-Transcendence : A Western Interpretation of Eastern Teaching

Philosophy East and West 027: 265-283; Stark, Michael J.; Washburn, Michael C.; English; Phily EW 027 1977; Egocentricity; Feeling

Title Post:
Rating: 100% based on 99998 ratings. 99 user reviews.
Author:

Terimakasih sudah berkunjung di blog SELAPUTS, Jika ada kritik dan saran silahkan tinggalkan komentar

  © Blogger template Noblarum by Ourblogtemplates.com 2021

Back to TOP  

submit to reddit