Kamis, 07 Juni 2012

DEFINISI – ARTI - PENGERTIAN ESTETIKA - AESTHETICA

aesthetica estetika

Dalam makna modernnya, estetika sering dipahami sebagai disiplin filsafat, yakni filsafat fenomena estetika (objek, kualitas, pengalaman dan nilai), atau filsafat seni (kreativitas, karya seni, dan persepsinya) atau filsafat kritik seni dalam pengertian luas (metakritisisme), atau disiplin yang terkait secara filosofis dengan ketiga bidang itu sekaligus. Refleksi estetis telah ada sebelum hadirnya istilah itu sendiri. Seiarah estetika Barat biasanya dimulai dengan Plato, yang tulisannya memuat refleksi sistematis terhadap seni dan teori spekulatif tentang keindahan. Tetapi, Plato atau muridnya, Aristoteles, tidak membahas dua tema besar estetika ini secara bersamaan. Istilah "estetika" diperkenalkan ke bidang filsafat pada pertengahan abad ke-18 oleh filsuf Jerman, Alexander Gottlieb Baumgarten (171.4-1.762). Baumgarten, murid dari Christian lVolff (1,679-1,754) yang dipengaruhi Leibniz, menyimpulkan bahwa sistem disiplin filsafat tidak lengkap dan membutuhkan ilmu yang seiajar dengan logika, yakni ilmu tentang kognisi yang jelas dan berbeda yang bisa didapat melalui akal. Ilmu baru ini adalah estetika, ilmu tentang kognisi (kesadaran) akan sesuatu yang jelas dan sesuatu yang tidak jelas, yang disadari melalui indra. Pandangan ini pertama kali dikemukakan oleh Baumgarten dalam disertasinya, Meditationes philosophicae de nonnullis ad poema pertinentibus (1753) dan dalam buku puisi yang terbit 15 tahun kemudian, Aestbetica. Namun, berbeda dengan makna dari etimologi istilah ini (kata Yunani aistbetica - persepsi), karya filsuf ini tidak berhubungan dengan teori kognisi indrawi, tetapi dengan teori tentang puisi (dan secara tak langsung, dengan semua bentuk seni) sebagai bentuk kognisi indrawi. Objek persepsi utama dari kognisi indrawi ini adalah keindahan. Kombinasi dari kedua hal itu-yakni refleksi terhadap seni dan refleksi terhadap keindahan-meniadi dasar bagi perkembangan cabang filsafat yang baru. Namun kombinasi ini, selain melahirkan pemikiran cemerlang, jr.rga sekaligus menimbulkan kesulitan teoretis dan metodologis yang tak pernah usai. Jelas ilmu baru itu adalah peristiwa bersejarah, menandai awal periode baru dalam perkembangan filsafat seni, dan terutama karena ilmu ini berbarengan dengan lahirnya karya yang meringkaskan pencarian panjang akan denominator umum dari segala bentuk seni. Prestasi ini dicapai oleh ahli teori dari Perancis, Charles Batteux, melalui karyanya yang berjudul Traite des beaux arts redwia un meme principe (17461. Batteux mengakui bahwa ciri umum dari seni adalah keindahan yang meiekat di dalamnya, dan karenanya seni itu bisa disebut sebagai beaux arts. Nama estetika diterima selama beberapa waktu. Immanuel Kant ('J,724-7804 mengawali kritik terhadap Baumgarten yang dianggapnya kurang konsisten, dan dalam karyanya yang berjudul Critique of Pure Reason (1781 dan 1787) dia menggunakan istilah estetika transendental yang berarti ilmu filsafat tentang persepsi indrawi. Akan tetapi, dalam Critiqwe of Pure Reason (1790) dia menggunakan istilah estetika untuk mendefinisikan refleksi tentang keindahan dan penilaian selera. Makna tradisional dari estetika menjadi populer pada abad sembilan belas lewat pengaruh Hegel (1,770-1,883), yang kuliah-kuliahnya tentang filsafat seni (fine art) pada 1820-9 dipublikasikan setelah dia meninggal dengan iudul Vorlesungen ilberdie Asthetih (pada 1835). Kant, Schelling dan Hegel adalah frlsuf utama pertama yang meniadikan estetika sebagai bagian inheren dalam sistem filsafat mereka. Menurut Kant, estetika adalah teori pertama dan utama tentang keindahan, tentang kehalusan dan penilaian estetika. Bagi Hegel, estetika terutama adalah filsafat seni. Dua model estetika itu, yakni sebagai filsafat keindahan (dan nilai estetika) dan filsafat pengalaman estetika, atau sebagai filsafat seni, telah meniadi dominan dalam kajian estetika pada abad ke-19 dan awal abed ke-20. Dua varian itu kebanyakan dipadukan dan hasilnya amat bervariasi. Tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, gagasan estetika sebagai filsafat seni tampaknya meniadi lebih populer Pada abad ke-19 ada usaha pertama untuk melampaui filsafat dalam rangka mengkali estetika dan untuk menciptakan ilmu estetika tersendiri. f)alam Vorschule der Aesthetik yang terbit tahun 1875, 6lsuf Jerman Gustav Theodor Fechner berusaha membuat bidang estetika eksperimental berdasarkan psikologi. Abad ke-20 rnenjadi saksi dari munculnya upaya untuk menciptakan ka jian estetika psikologis oleh tokoh dari psikologi gestalr (Rudolf Arnheim dan Leonard Meyer) dan tokoh psikologi mendalam (Ernst Kris dan Simon Lesser). Perkembangan lainnya melibatkan estetika matematika (George Birkhoff dan Max Bense), estetika informatik (Abraham Moles), estetika semiotik dan semioiogis (Charles Morris, Umberto Eco,Yuri Lotman), dan estetika sosiologis (J'M'Guyau, P. Francastel, Pierre Bourdieu, Janet Wolff).

Dalam domain filsafat, proyek penciptaan ilmu estetika ilmiah dilakukan oleh Etienne Souriau dan Thomas Munro' Akan tetapi, estetika tidak berhenti hanya sebagai cabang dari filsafat. Seiak pergantian abad, muncui banyak perhatian pada kesulitan metodologis dalam estetika, yang mulai menimbulkan keraguan dan argumen nenentang status ilmiah dari estetika dan penciptaan teori estetika. Yang secara khusus relevan disini adalah gagasan Max Dessoir (1906) dan Emil lJtitz (19t4-20) yang masih populer. Kedua pemikir ini memperkenalkan perbedaan antara estetika dengan ilmu seni umum dan menegaskan bahwa kedua bidang itu saling bersinggungan tetapi tidak tumpang tindrh (ouerlap): fungsi seni tidak bisa direduksi meniadi fungsi este- tika saia, sedangkan nilai estetika dapat ditemukan dalam obiek yang tidak selalu berupa karya seni, seperti fenomena alam dan produk manusia yang memiliki nilai artistik. Mereka iuga mengkiaim bahwa ilmu seni umum secara metodoiogi berbeda dengan estetika dan harus dikembangkan sebagai cabang yang lepas dari filsafat, Estetika iuga seharusnya keluar dari batas-batas filsafat dan lebih banyak memanfaatkan gagasan yang dihasilkan oleh ilmu lain, terutama psikologi dan sosiologi (lihat juga Anr, Soctolocv oE). Ahii estetika pertama yang bukan hanya mensistematisasikan keberatan terhadap estetika tetapi iuga berusaha mengatasi keberatan itu adalah Edward Bullough, lewat kuliah-kuliahnya pada 1907 tentang "rnodern conception of aesthetics" (dalam Bulloughj !9571. Dia membagi keberatan terhadap estetika itu meniadi dua kelompok: kelompok populer dan teoretis, dan keduanya dapat direduksi meniadi pernyataan berikut ini:

1. Usaha apa pun untuk membuat teori fenomena yang spesifik, relatif, subjektif dan mudah berubah sebagai sebuah efek estetika dan efek kesenangan dan ketidaksenangan yang berkaitan dengan fenomena itu adalah usaha Yang sia-sia.

2. Definisi keindahan dan fenomena estetika lainnya adalah terlampaui abstrak dan umum dan karenanYa tidak berguna dan secara praktis tidak perlu' Definisi itu tidak membantu siapa pun untuk menikmati keindahan dan seni'

3. Baik itu seniman maupun penikmat seni merasa gelisah dan iengkei oleh fakta bahwa aturan-aturan kreasi dan resepsi didefinisikan dan dikenakan pada seniman dan Publik, dan bahkan disaiikan dengan gaqa Yang soA keilmuan yang absurd dan angkuh'

Karya Bullough adalah kalian pertama yang meringkas kesulitan metodologi internal dari estetika' dan keberatan yang datang dari luar dunia akademi, meski tidak selalu dapat dijustifikasi, adalah ke- beratan yang bukannya tanpa alasan' Menurut Stefan Morwaski (1987)' karya Bullough mengawali periode ketiga dalam seiarah estetika, periode kritik-diri atas status riset, dan peri<,rde perkembangan refleksi-diri metodologisnya. Proses ini mencapai puncaknya pada 1954 dengan publikasi antologi Elton yang terkenal, Aesthetics and Language, dan iuga paper M. Weitz yang berjudul "The role of theory in aesthetics"(1956) dan paper'V/. E. Kennick, "Does traditional aesthetics rest on a mistake?" (1958), yang meneruskan dan mengembangkan ide-ide yang dikemukakan oleh Elton. Ketiga karya ini diilhami oleh gagasan Wittgenstein dalam karyanya, Philosophical lnuestigations (I953), dan mereka mengkritik estetika filosofis tradisional secara tajarn dan menyeluruh dengan menudingnya sebagai kajian yang kurang presisi bahasanya, konsepnya kabur, dan adanya kesalahan asumsi teoretis dan metodologis yang tampak mencolok dalam usaha membuat teori filsafat seni.

Asumsi yang keliru menyebabkan kegagalan teori seni yang lahir dari asumsi itu. Asumsi pertama yang keliru adalah klaim kaum esensialis bahwa seni mengandung sifat universal, atau esensi absolut. Tugas ahli estetika adalah menggali dan mendefinisikan esensi itu. Seni, kata pengkritiknya, adalah fenomena yang senantiasa berubah, tidak mengandung esensi universal, dan karenanya gagasan tentang "seni," "karya seni," "pengalaman estetika," dan seienisnya, adalah gagasan yang terbuka (I(eitz, 1959) dan tidak dapat didefinisikan. Kedua, estetika tradisional melupakan kebenaran dasar lainnya yakni bahwa setiap karya seni itu dinilai berdasarkan keunikan dan orisinalitasnya yang tak bisa diulang, dan karenanya tidak ada ruang untuk penetapan aturan umum dan evaluasi umum atas karya-karya semacam itu. Akan tetapi, ahli estetika tetap bersikukuh dalam usahanya untuk menemukan atau membuat aturan umum itu, walaupun setiap upaya generalisasi tentang seni adalah upaya meragukan dan tidak bisa dilustifikasi. Argumen ahli estetika adalah analog dengan argumen dalam etika, tetapi setiap analogi tampaknya akan menyesatkan. Generalisasi dalam etika adalah dimungkinkar.r dan diperlukan, sedangkan dalarn estetika, situasinya amat berbeda. "Ketika dalam estetika kita bergerak dari yang khusus ke yang umum, maka kita berarti berjalan dalarn arah yang salah" (S. Hampshire, dalam Elton, 1954). Ketiga, ahli estetika mengikuti filsafat dengan asumsi yang keliru, yakni bahwa fakta dapat diungkap dan diinterpretasikan, padahal tr.rgas sebenarnya adalah bukan mengungkap fakta tetapi mengklarifikasi makna kata. Kata, konsep, dan ekspresi dipakai dalam sejumlair cara yang tidak selalu pas. Problem dasar estetika bukanlah bagaimana menjawab pertanyaan "Apa itu seni?" tetapi "Konsep apa yang merupakan seni?" (\feitz).I(ritik terhadap al.rli estetika berdasarkan filsafat analitis, bagaimanaprrn jrrga,tidak menyebabkan matinya estetika ataLl kemenangan abadi minimalisme kognitif dan tidak rrenghalangi usaha-usaha baru untuk membuat teori seni. Bahkan kita barangkali bisa mengatakan bahwa kritik etika anti-esensialis itu justru memunculkan kebangkitan dan perbaikan pada 1970- an d:rn 1980-an. Namnn, pada saat yang sama, estetika terus dikritik dari iuar dan ahli estetika masih melaniutkan refleksi diri metodologisnya yang sebagian dilakukan untuk n.reniawab kritik eksternal dan sebagian lagi untuk memenuhi kebtrtuhan yang muncul dari dalam estetika itu sendiri. rWalau demikian, ahli estetika menolak semua keberatan dasar yang diungkapkan oleh filsuf analitis. Estetika seharusnya, dtrn memang, dapat dipraktikkan dengan ketepatan logis dan linguistik, tetapi pada saat yang sama ia tidak dapat direduksi menjadi sekadar analisis konsep dan analisis terhadap cara penggunaartnya. D:rlam hal ini, situasi estetika tidak banyak berbeda dengan cabang ilmu kemanusiaan lainnya. Adalah keliru lika seseorang menerapkan ketentuan yang berlaku dalam ilmu aiam atau matematika ke dalam ilmu estetika. Lebih jauh, bahkan dalam ilmr.r alam sekalipun, tidak ada paradigma tunggal dan universal dalam hal ketepatan ilmiah' Seseorang harus menyadari bahwa setiap upaya generalisasi terhadap fenomena yung ,".tg", beragam dan mudah berubah seperti seni dan pengalaman estetika adalah upaya yang amat berisiko, tetapi general- isasi itu tidak harus diabaikan sepenuhnya' Menghindari definisi esensialis dan antihistoris terhadap estetika tradisional itu bukan berarti meninggalkan usaha untuk membuat teori seni dan fenomena estetika' Pertimbangan normatif yang membahayakan kebebasan kreasi, yang iuga pertimt"rrg"n yang kerap dinisbahkan kepada estetika, adalah bukan karakteristik seni dan lebih sering muncul dalam kritik seni' Tetapi, adalah benar bahwa mayoritas teori estetika memuat elemen evaluasi' Tetapi sekali lagi, aspek aksiologis adalah lazim dalam setiap disiplin ilmu dan membentuk bagian organik dari kognisi. Mereka tidak bisa, dan tidak perlu, dieliminasi dari ilmu pengetahuan. Pada saat yang sama' adalah mustahil untuk membuat teori seni yang benar-benar murni (Dickie ' 197L)' Ahli estetika' sembari menolak kritik estetika oleh filsuf analitis, iuga secara periodik mencatat kritik dan keberatan yang dialamatkan kepada disiplin ilmu mereka, dan mereka mengekspresikan keraguannya sendiri terhadap status risetnya' Namun dalam kebanyakan kasus' mereka membela manfaat risetnya, walau ada yang suka melakukannya dalam bentuk yang sudah dimodifikasi sebagian atau sepenuhnya' Setidaknya ada tiga usaha yang patut dicatat dalam rangka menyeimbangkan argumen pro dan kontra yang dibuat oleh Ihli estetika dalam tiga dekade terakhir ini.

Usaha Pertama adalah oleh Jerome Stolnitz pada 1960 dalam bukunya Aesthetics and Philosophy of Art Criticism (h'7-19). Sedangkan yang kedua oleh Stefan Morawski dalam dua karya yang diterbitkan dalam bahasa Polandia (1973,1987\'Tetapi kesimpulan dua karya Morawski itu terbeda; dalam karya pertama dia membela signifikansi estetika' sedangkan dalam karya kedua dia meninggalkan pembelaan ini dan berargumen bahwa iignifikansi itu mulai menurun. Penulis ketiga yang mendaftar keberatan-keberatan yang muncul, dan membela estetika dalam menghadapi keberatan itu, adalah Goran Hermeren, yang mencurahkan bab terakhir dari bukunya Aspects of Aesthetics (1983, h. 224-60\ untuk persoalan ini' Ada banyak keraguan dan keberatan terhadap estetika yang terus muncul berulang-ulang. Juga ada kritik baru yang muncul dalam perkembangan kultur modern dan seni auant-garde, media massa dan kebudayaan massa. Kritik terbaru mengandung dua aspek. Yang pertama' keberatan utama masih berkaitan dengan status estetika sebagai bidang riset' Peng- kritik menegaskan bahwa memahami estetika secara kognitif adalah kesia-siaan, anakronistik dan tidak memadai, metodenya usang dan didasarkan pada prinsip metodologi yang salah' Konsekuensinya, bahkan misalnya estetika pernah membuat pencapaian, capaian itu ridak bisamemb"ntu ketika berhadapan dengan kemunculan gerakan auant-garde mutakhir di bidang seni dan dengan fenomena kebudayaan massa. Jadi estetika mengabaikan hal baru itu (sikap yang tidak pantas) atau mungkin berusaha mendeskripsikannya, *.ntin,.rp..,asikannya, dan mengevalu"riny, d.ng"n menggunakan tradisional dan kategori tradisional yang sudah tak lagi relevan, yang karenanya melahirkan kegagalan yang memalukan' Jenis kritik ini dapat diiumpai dalam paper oleh T. Binkley, dalam karya Michael firby The Art of Time (1969\ dan karya terakhir dari Stefan Morawski'Kirly berpendapat bahwa estetika filosofis tradisional harus diganti dengan estetika historis atau situasional. Binkley mengklaim bahwa estetika dapat bertahan iika ia mereduksi cakupan perhatiannya ke refleksi atas fenomena estetika dan meninggalkan usaha menciptakan teori seni' seLab estetika tidak dapat menielaskan seni auant- gar de,yang menolak paradigma seni menurut estetika jika estetika menggunakan asumsi bahwa hakikat dari seni adalah estetika, Morawski mengklaim bahwa estetika mengalami penurunan bukan hanya karena ada seni auant-garde tetapr. Juga karena seni "telah kehilangan sebagian signifikansinya dan eksistensinya sedang terancam." Estetika, karena itu, harus memberi tempat bagi "poietics" sebagai teori kreativitas atau bagi pemahaman anti-estetika tentang "refleksi kritis terhadap krisis kultur dan seni di masa kita" (1987, h. 77 l. Bukan metodologi penyebab utama dari penurunan estetika; penyebab pokoknya adalah disintegrasi objek utamanya: seni. Akan tetapi, estetika dikritik bukan hanya karena ketidakberdayaannya dalam menghadapi seni auant-garde, tetapi juga karena sikapnya yar'g ahistoris (abistoricall, karena "mencari totalitas" (Verckmeister, 1971), karena esensialisme dan membuat aturan abstrak yang tidak menghargai fakta bahwa "seni adalah sindrom yang dinamis" (Adorno, 1984). Seni itu sendiri dan penerimaannya adalah produk dari proses seiarah (Bourdieu, 1979). Jrka estetika ingin tetap bertahan, ia harus berubah meniadi estetika dialektis (Adorno) atau estetika sosiologis (Bourdieu). Jenis argumen lain yang menentang estetika menyatakan bahwa tidak seorangpun yang benar-benar membutuhkan estetika. Estetika tidak membantu penerima seni modern untuk mencari pemahaman di tengah chaos fenomena artistik modern. Seseorang yang serius di bidang estetika akan lebih baik meruiuk pada karya sejarah dan teori bidang seni tertentu, atau pada psikologi seni, sosiologi seni, filsafat Curruns (kebudayaan), teori komunikasi massa, semiotika, dan sebagainya. Sulit untuk meramalkan masa depan estetika. Tetapi tesis tentang kematian atau penurunan estetika juga sama lemahnya dengan tesis tentang kematian atau penurunan seni. Tetapi estetika harus berubah, dengan mempertimbangkan transformasi subjek kajiannya dan prestasi disiplin ilmu lain yang berkaitan dengan seni dan fenomena estetika. Mungkin kita harus kembali ke gagasan dari dua bidang, gagasan Dessir dan Utitz: nilai dan pengalaman dari filsafat seni dan filsafat estetika. Tetapi tidak ada keraguan bahwa perkembangan psikologi, sosiologi, semiotika, dan disiplin lain yang terkait dengan seni tidak akan menghapuskan problem filosofis (aksiologis, metodologis, kognitif, dan ontologis) dari seni dan fenomena estetika. ini adalah raison d'etre yang kokoh dari estetika.

Title Post:
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Author:

Terimakasih sudah berkunjung di blog SELAPUTS, Jika ada kritik dan saran silahkan tinggalkan komentar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

  © Blogger template Noblarum by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP  

ad8d337c32e240c9ae465ea741f05202 submit to reddit