Kamis, 20 Januari 2011

ARTI, DEFINISI, PENGERTIAN KETERIKATAN (ATTACHMENT)

Keterikatan mengacu pada ikatan antara dua orang individu atau lebih; sifatnya adalah hubungan psikologis yang diskriminatif dan spesifik, dan mengikat seseorang dengan orang lain dalam rentang waktu dan ruang tertentu. Para ahli riset dan klinis menaruh perhatian khusus pada dua jenis ikatan: keterikatan dengan orang-tua (yang sayangnya, di dalam literatur, acapkali diartikan sebagai ikatan pada pihak ibu saja) dan keterikatan dengan anak-anak. Sudah diakui secara luas bahwa anak-anak dari sebagian besar spesies 48 vertebrata secara psikologis terikat kepada orang tua mereka; bayi-bayi manusia mula-mula mengalami keterikatan dengan ibunya dan (biasanya tidak lama kemudian) kepada orang dekat selain ibu (significant-others) dalam paruh kedua usia mereka yang pertama.

Keinginan untuk selalu dekat (misalnya dengan terus nnenguntit) adalah hal umum yang ditafsirkan sebagai pertanda adanya ikatan anak kepada orang tua; indikator lain adalah tingkah laku anak-anak dalann situasi yang dipandang asing dan tindakan seperti cara senyum yang berbeda, ta-ngisan atau jeritan sebagai protes bila ia dipisah dari orang tuanya (lihat Ainsworth 1973). Untuk menjelaskan fenomena keterikatan ini perlu ada kriteria berganda, karena adanya perbedaan antar-individu dalam mengorganisir dan mewujudkan keterikatannya perbedaan yang muncul karena variasi dalam cara perawatan oleh ibu. Namun, karena sistem keterikatan anak sifatnya timbal-balik dengan orang tua, maka lebih tepat kalau dikatakan bahwa seorang ibu dan anak yang masih kecil membentuk sistem keterikatan tunggal yang super-ordinatif sifatnya. Rasa senang dan saling membutuhkan sifatnya saling menjalin dalam keterikatan tersebut; sehingga mustahil untuk menceritakan keterikatan yang satu tanpa menjelaskan yang lain. Tidak banyak kesepakatan mengenai sifat proses motivasional yang amat kuat ini: segudang gagasan penjelas telah diajukan, baik dengan nama teori proses-belajar (Gerwizt 1972; Hoffman dan Ratner 1973), psikoanalisis (Freud 1946) dan etologi (Ainswoth 1973; Bowlby 1969). Bowlby, sebagai salah satu contoh, memandang keterikatan sebagai tindakan yang dikendalikan oleh sistem kontrol internal. Secara biologis, anak-anak dipersiapkan untuk membentuk keterikatan. Bisa dibilang bahwa mereka secara genetis diprogram untuk menanggapi situasi-situasi sosial dan untuk menampilkan tingkah-laku tertentu (senyum, tangis, merangkul, dan seterusnya) sejak awal kehidupannya hingga titik di mana mereka memfokuskan hanya kepada figur kedua orang tua mereka. Maka, hal yang baru ketika si anak membentuk keterikatan bukanlah bentuk-bentuk tingkah-laku atau intensitasnya, melainkan pola pengorganisasian respon itu yang terarah pada seseorang yang signifikan. Kelihatannya, semua unsur tingkah-laku anak-anak lama kelamaan dapat dikaitkan secara fungsional clengan suatu sistem attachment kontrol atau rancangan, yang hirarkis dalam pengorganisasiannya dan bersifat mengejar target.

Target itu didefinisikan sebagai pemeliharaan kedekatan dengan pemberi-perhatian dan sifat hirarkis dalam pengorganisasiannya berangkat dari kenyataan bahwa respon tertentu bisa clipakai untuk sekian fungsi yang berbeda dalam memelihara kedekatan itu. Ada pendapat (Belksy dan Nezworski) bahwa dalam dekade 1980-an terjadi revolusi semu' dalam pemahaman kira mengenai perkembangan awal anak-anak, dan khususnya dalam hal pengakuan bahwa perbedaan individual yang terukur pada tahun pertama kehidupan akan meramalkan perkembangannya selanjutnya. Ini diterapkan dalam hal perkembangan sosio-emosional dalam konteks keterikatannya (lihat Herbert, 1991). Pengukuran atas rasa aman anak dalam keterikatannya kepada ibu (di akhir tahun pertama kehidupannya) dengan sendiri-nya menjadi pertanda yang kompeten, paling tidak hingga tahun-tahun awal ia masuk sekolah (lihat Bretherton 1985).

Prasangka kalangan ahli riset dan klinis tentang pengaruh ibu terhadap perkembangan anak. dan pentingnya keterikatan pertama si anak memiliki dampak yang bagus juga: menyoroti kebutuhan-kebutuhan psikologis anak dan perlunya pengaturan yang manusiawi dalam perawatan anak pengganti ibu. Kerugiannya adalah pada ideologi profesional, khususnya yang menjamur pada 1950-an, dimana para ibu menuduh orang lain atas terjadinya psikopatologi, mulai dari autistik anak-anak (semacam gangguan mental) hingga kenakalan remaja. Rutter (1972), salah satunya. men-coba memberi pandangan yang lebih seimbang tentang peran keterikatan dan asuhan ibu dalam perkembangan tingkah-laku normal dan tidak normal. Keterikatan ibu kepada anak acapkali mengacu pada adanya jalinan maternal. Secara ringkas, dalam beberapa spesies mamalia, termasuk kita sencliri, para ibu menjadi terikat dengan anaknya lewat kontak yang erat (yakni persentuhan kulit) selama periode kritis yang pendek setelah kelahiran. Pandangan ini agak berlebihan juga, mengingat bahwa tidak ada tingkah-laku orang dewasa, serta kompleksitas perilaku dan sifatnya, yang mampu menjelaskan istilah yang 'etologis' itu. Dalam pandangan ini, rangsangan sensorik pada bayi ketika ia baru dilahirkan amat penting untuk niendekatkan ibu dengan si anak. Selama jam-jam kritis yang menyertai kelahiran, rangsangan visual dan bau-bauan yang dirasakan ibu dari anaknya clipandang sangat signifikan. Teori periode-kritis dan kontak yang erat dijustifikasi oleh dua landasan (lihat Klaus dan Kennel 1976). Yang pertama berakar pada studi-studi tentang tingkah-laku binatang. Dukungan etologis terhadap doktrin ikatan ibu-anak ini ditarik dari percobaan-percobaan dengan kambing dan biri-biri (kesan atas bau-bauan) ternyata tidak bertahan lama. Tidak ada bukti dari studi longitu-dinal manusia yang membandingkan para ibu yang setelah melahirkan bayinya langsung dipisahkan atau dibolehkan melakukan kontak dengan bayinya, yang bisa mendukung teori periode sensitif atau 'etologikar itu. Akibat dari doktrin tersebut terhadap pemikiran pada praktisi di bidang kebidanan, pediatri dan kerja sosial terlihat jelas, khususnya ketika mereka menghubung-hubungkan antara gangguan dalam ikatan ibu-anak (misalkan karena penyapihan terlalu dini) dengan masalah-masalah serius seperti pengania-yaan anak-anak. Aplikasi-aplikasi klinis ini ada juga tantangannya (lihat Herbert dan Sclukin 1985; Sclukin et. al. 1983). Tampaknya teladan yang dipelajari anak, perbedaan bentuk pengkondisi-an. peniruan dan faktor-faktor budaya semuanya berpengaruh terhadap perkembangan ikatan ibu kepada anak (dan bahkan juga ikatan ayah kepada anak) dan melibatkan pula proses belajar ber-tahap untuk mencintai si bayi lebih dalam lagi sebuah proses yang mengalami naik-turun, dan acapkali disertai campur-aduknya perasaan terhadap si anak. Perlu diingat bahwa ikatan maternal hanya satu gagasan dari sejarah panjang teori pengasuhan anak. Gagasan-gagasan dan resep-resep untuk mengatur anak mirip dengan mode; sebentar begini sebentar begitu. Demikian pula dukungan terhadap teori-teori itu.


ARTI, DEFINISI, PENGERTIAN keterikatan (attachment)

Title Post:
Rating: 100% based on 99998 ratings. 99 user reviews.
Author:

Terimakasih sudah berkunjung di blog SELAPUTS, Jika ada kritik dan saran silahkan tinggalkan komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

  © Blogger template Noblarum by Ourblogtemplates.com 2021

Back to TOP  

submit to reddit