Minggu, 16 Januari 2011

KESESATAN RELEVANSI TENTANG KAITAN DENGAN LOGIKA

Kesesatan relevansi timbul kalau orang menurunkan suatu konklusi yang tidak relevan dengan premisnya, artinya: secara logis konklusi tidak terkandung atau tidak merupakan implikasi dari premisnya. Di bawah ini sejumlah kesesatan relevansi yang banyak terjadi. Yang lazim digunakan, nama Latinnya kita pertahankan.

1 Argumentum ad hominem Kesesatan ini terjadi kalau kita berusaha agar orang menerima atau menolak sesuatu usul, tidak berdasarkan alasan penalaran, akan tetapi karena alasan yang berhubungan dengan kepentingan atau keadaan orang yang mengusulkan atau yang diusuli. Misalnya, orang menolak land reform, karena pembagian tanah itu sesuatu yang selalu dituntut oleh orang komunis. jadi alasannya: usul land reform itu perbuatan orang komunis dan perbuatan orang komunis itu jahat. Contoh lain: Seorang terdakwa berusaha mendapat hukuman seringan mungkin dengan mengatakan bahwa penderitaan yang ditimpakan oleh hakim kepadanya dengan hukuman yang diputuskannya, tentu akan berbalik menimpa sang hakim atau keluarganya.

2. Argumentum ad verecundiam atau argumentum auctoritatis Kesesatan ini juga menerima atau menolak sesuatu tidak berdasarkan nilai penalarannya, akan tetapi karena orang yang mengemukakannya adalah orang yang berwibawa, dapat dipercaya, seorang ahli. Secara logis seharusnya orang tidak menggantungkan diri kepada pendapat orang lain yang dianggap ahli itu. Keahlian, kepandaian, atau kebaikan justru harus dibuktikan dengan penalarannya yang tepat, tidak sebaliknya. Pepatah Latin berbunyi: Tantum valet auctoritas, quantum valet argumentatio; Nilai wibawa itu hanya setinggi nilai argumentasinya.

3. Argumentum ad baculum Baculum artinya tongkat. Kesesatan ini timbul kalau penerimaan atau penolakan suatu penalaran didasarkan atas adanya ancaman hukuman. Kalau tidak menyetujui, akan dihukum: dipenjarakan, dipukuli, dipersulit hidupnya. Teror pada hakekatnya adalah paksaan untuk menerima sesuatu gagasan atau penalaran karena ketakutan. Ini argumentum ad baculum.

4. Argumentum ad misericordiam adalah Penalaran yang ditujukan untuk menimbulkan belas kasihan agar dapat di terima disebut argumentum ad misericordiam. Argumen yang demikian itu biasanya berhubungan dengan usaha agar sesuatu perbuatan dimaafkan. Sering dalam sebuah pengadilan seorang terdakwa mengajukan argumen ini untuk menimbulkan belas kasihan kepada hakim. Misalnya dengan mengingatkan hakim bahwa ia mcmpunyai isteri dan anak-anak yang hidupnya tergantung kepadanya, bahwa isterinya sedang sakit keras, dan sebagainya.

5. Argumentum ad populum

Argumentum ad populum ditujukan kepada 'rakyat', kepada suatu massa, kepada pendengar orang banyak. Pcmbuktian scsuatu secara logis tidak dipentingkan. Yang diutamakan ialah menggugah perasaan massa pendengar, membangkitkan semangat atau membakar emosi pendengar agar menerima suatu konklusi tertentu. Suatu pembaharuan yang tidak disetuiui mungkin disebut 'petualangan yang tidak bertanggungjawab', Sebaliknya pembaharuan yang disetujui menjadi 'kemajuan tehnik yang membuka sejarah baru sedang keadaan lama yang tidak disetujui menjadi 'sesuatu yang sudah usang dan ketinggalan jaman'. Argumentum ad populum itu banyak kita jumpai dalam kampanye politik, pidato-pidato, demonstrasi, dan propaganda.

6. Kesesatan non causa pro causa

Kesesatan ini teriadi apabila kita menganggap sesuatu sebagai sebab, padahal sebenarnya bukan sebab, atau bukan sebab yang lengkap. Anggaplah telah terjadi peristiwa berikut. Adam ditodong dan dalam pergumulan yang terjadi, Adam kena sabet clurit si penodong dan Adam meninggal. Orang banyak yang datang menolong, semua mengatakan bahwa Adam meninggal disebabkan oleh sabetan clurit penodong. Akan tetapi visum et repertum dokter menyatakan: Adam mempunyai penyakit jantung, dan kemungkinan besar ia meninggal karena serangan jantung. Luka sabetan clurit tidak mungkin menimbulkan kematian, akan tetapi agaknya pergumulan dengan Penodong itu menaikkan emosinya, sehingga mengakibatkan serangan iantung, Di sini serangan jantung adalah kondisi mcmadal (sufficient condition), penyakit jantung Adam adalah kondisi mutlak (necessary condition) dan kondisi-kondisi inilah yang menyebabkan Adam meninggal. Pergumulan dengan penodong, luka sabetan clurit dan kenaikan emosi Adam bukan yang menyebabkannya meninggal. Kalau orang lain yang mengalaminya, ia tidak akan meninggal. Jadi orang banyak telah sesat dalam menarik konklusi: bukan sebab dikiranya sebab. Sering juga apa yang teriadi sesudah suatu kejadian lain dianggap sebagai akihat dari kejadian lain itu, sedang kejadian lain itu dianggap sebagai scbabnya. Misalnya seorang pasien meninggal sesudah disuntik oleh seorang dokter. Ini suatu kesesatan penalaran. Urutan waktu saja tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat. Kesesatan ini memiliki nama sendiri: post hoc ergo propter hoc, sesudah itu, jadi karena itu.

7. Kesesatan aksidensi

Kesesatan karena aksidensi terjadi kalau kita menerapkan prinsip atau pernyataan umum kepada peristiwa atau peristiwa-peristiwa tertentu yang karena keadaannya yang bersifat aksidental mcnyebabkan penerapan itu tidak cocok. Sifat atau kondisi yang aksidental ialah sifat atau kondisi yang kebetulan, yang tidak harus ada, yang tidak mutlak. Bahwa Adam mengalami kecelakaan, itu suatu kondisi yang aksidental bagi Adam; Adam tidak harus mengalami kecelakaan. Kalau seorang memberi susu dan buah-buahan, kepada bayinya meskipun bayi itu sakit, dengan pengertian bahwa susu dan buah-buahan itu baik bagi bayi, maka si ibu tersebut telah melakukan penalaran yang sesat karena aksidensi. Kondisi aksidental dari bayinya yang sedang sakit mencret menyebabkan prinsip umum itu dalam hal ini tidak berlaku. Makan adalah suatu perbuatan yang baik. Akan tetapi kalau kita makan pada waktu harus berpuasa, maka penalaran kita sesat karena aksidensi.

8. Kesesatan karena komposisi dan divisi.

Ada predikat-predikat yang hanya mengenal individu-individu suatu kelompok kolektif. Anggota-anggota polisi yang menggunakan senjatanya untuk menodong, kn simpulkan bahwa korps kepolisian itu terdiri atas penjahat. Sebaliknya kalau ada predikat yang berlaku untuk suatu kelompok kolektif dan berdasarkan n nyahadl aintug disimpulkan bahwa setiap anggota dari kelompok kolektif itu tentu juga m predikat itu, maka penalaran itu sesat karena divisi. Kesesatan komposisi dan divisi itu tidak hanya mengenai kelompok kolektif dengan anggotanya, akan tetapi juga mengenai sebuah kesatuan dengan bagian-bagiannya. Misalnya, kalau sebuah rumah itu besar, itu tidak berarti bahwa kamar-kamar didalamnya tentu juga besar. Kalau film itu bagus belum tentu semua pemerannya bermain bagus.

9. Petitio principii Dalam usaha untuk membuktikan sesuatu, dapat terjadi bahwa dalam penalaran yang kita susun, kita menggunakan konklusinya atau apa yang hendak kita buktikan itu sebagai premi . Sudah tentu dengan kata-kata atau ungkapan yang berbeda dengan bunyi konklusinya. Kalau sama tentu kesesatannya sudah nampak seketika dan dapat diperbaiki. Kescsatan penalaran seperti itu disebut petitio principii. Penalaran berikut adalah sebuah petitio principii. Orang harus berlaku adil, karcna itu adalah perintah Tuhan, yang tercantum dalam Kitab Suci. Sebagai alasan atau premis dikemukakan bahwa: Kitab Suci itu berisi perintah Tuhan. Di sini dibuktikan bahwa perintah Tuhan itu tercantum dalam Kitab Suci karena Kitab Suci itu berisi perintah Tuhan. Kalau secara ilmiah orang menyimpulkan bahwa teori evolusi tentang asal-usul manusia dari makhluk purba semacam kera itu benar dan sebagai buktinya dikemukakan bahwa fosil-fosil purba menunjukkan adanya makhluk yang menyerupai manusia yang memiliki sejumlah ciri-ciri kera, maka kesimpulan itu adalah suatu petitio principii. Fosil-fosil itu hanya dapat dianggap sebagai bukti kebenaran teori evolusi kalau fosil-fosil itu diterangkan menurut teori evolusi. Yang tepat ialah mengatakan bahwa fosil-fosil itu tidak bertentangan dengan tcori evolusi, sehingga dapat dianggap memperkuat teori itu. Sering petitio principia itu berlingkar: A dibuktikan dengan B, B dibuktikan dengan C, C dibuktikan dengan D, dan dibuktikan dengan A. Bentuk petition principii yang demikian itu disebut circulus vitiosus.

10. Ignoratio elenchi Kescsatan ignoratio clenchi terjadi apabila konklusi yang diturunkan dari premis tidak relevan dengan premis itu. Sebenarnya argumentum ad hominem, ad verccundiam, ad baculum, dan ad populurn semuanya termasuk kesesatan ignoratio elenchi, karena di antara konklusi dan premisnya tidak ada relevansinya. Akan tetapi vang disebut ignoratio elenchi itu biasanya kesesatan penalaran yang tidak disebabkan karena bahasa. Kalau misalnya dalam suatu pengadilan seorang pembela dengan panjang lebar berhasil membuktikan bahwa pembunuhan itu suatu perbuatan yang sangat keji dan terkutuk, dan kemudian menarik kesimpulan bahwa terdakwa yang dibelanva tidak mungkin melakukan perbuatan sejahat itu, maka penalarannya sesat karena ignoratio elenchi. Yang diperlukan premis yang dapat membuktikan bahwa terdakwa tidak melakukan pembunuhan kalimat dapat dijawab: kalimat tanya dan kalimat berita, atau kalimat pasif dan aktif, atau biasa saja kalimat panjang dan kalimat pcndek. Kalau kita bertanya: Jam berapa kamu bangun?, maka pertanyaan itu tidak komplcks karena terdiri atas lebih dari satu pertanvaan, akan tetapi karena pertanyaan itu mengandung sebuah pernyataan di dalamnva, yaitu: bahwa kamu tadinya tidur. Kalau ASEAN menuntut supaya Viet Nam menarik mundur tentaranya dari Kampuchea, di dalamnya terkandung pernyataan, bahwa tcntara Vict Nam telah memasuki Kampuchca dengan tidak sah Kalau perianjian Camp David mengenai otonomi Palestina ditafsirkan berbeda oleh Mesir dan Israel, itu disebabkan karena bunyi kalimat-kalimat yang bersangkutan mengandung makna yang kompleks, sehingga negara yang satu dapat menunjuk makna yang lain daripada yang ditunjuk oleh negara lainnya. Biasanya suatu persetujuan diplomatik memang mengandung makna majemuk, vang kelak dapat ditafsirkan menurut situasi.

11. Argumentum ad ignorantiam Argumentum ad ignorantiam adalah penalaran yang menyimpulkan suatu konklusi atas dasar bahwa negasinya tidak terbukti salah, atau yang menyimpulkan bahwa sesuatu konklusi itu salah karena negasinya tidak terbukti benar. Menyimpulkan bahwa tidak ada makhluk 'badan halus karena adanya makhluk yang demikian itu tidak dapat kita lihat, sama saja dengan mengatakan bahwa dikepulauan Paskah tidak ada piramida karena kita tidak mengetahui adanya piramida di sana. Kedua-duanya adalah kesesatan argumentum ad ignorantiam. Dalam peristiwa melemparkan dadu ada ekuiposibilitas mengenai hasil lemparannya. Ini disimpulkan kalau tidak ada sesuatu yang dapat diketahui yang menyebabkan ekuiposibilitas itu tidak ada, artinya: sesuatu yang membuat lemparan itu cenderung mencapai hasil tertentu. Inipun suatu argumentum ad ignorantiam.

Title Post:
Rating: 100% based on 99998 ratings. 99 user reviews.
Author:

Terimakasih sudah berkunjung di blog SELAPUTS, Jika ada kritik dan saran silahkan tinggalkan komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

  © Blogger template Noblarum by Ourblogtemplates.com 2021

Back to TOP  

submit to reddit