Minggu, 01 Juli 2012

DEFINISI - ARTI - PENGERTIAN ART, SOCIOLOGY OF / SOSIOLOGI SENI


Ini adalah usaha untuk memahami produksi dan kon-

sumsi seni sebagai efek, refleksi, atau rep-

resentasi dari proses sosial umum. Karena

bukan disiplin yang didefinisikan secara

tegas, atau karena tak punya metodologi

uniter, sosiologi seni lebih baik dilihat se-

bagai bagian atau alat dari sejumlah dis-

iplin ilmu lain. Disiplin-disiplin tersebut

mungkin berupa penulisan sejarah dan

sejarah seni, antropologi sosial atau studi

subkultur, studi historis, dan sosiologis

atas kelas dan kelompok sosial, Soctolocv

oF KNowLEncE, linguistik dan kritik seni.

'Walaupun hubungan itu mungkin bisa di-

perdebatkan (Wolff, 1981), sosiologi dan

sejarah seni yang dipraktikkan sebagai

sebentuk sejarah sosial akan dikelompok-

kan bersama di sini. Salah satu pionir dari

kedua bidang itu, Pierre Francastel, telah

mengelompokkannya pada 1940-an. Dia

juga mengatakan (Francastel,1.965, h. 16)

bahwa subjek tersebut dalam dirinya sen-

diri merupakan karakteristik dari pemiki-

ran ahli sejarah pada periode modern, dan

menyarankan agar ia tidak dikembangkan

lebih dari "fungsi nilai-nilai."

Ekspresi "sosiologi seni" mengartiku-

lasikan dua istilah yang memiliki sejarah

berbeda. Kata "sosiologi" muncul di abad

ke-19 sebagai nama untuk berbagai metode

penelitian masyarakat manusia, sedangkan

"seni", sebaliknya, dipakai sejak zaman

kuno. Pada periode itu seni mengandung

arti serangkaian fenomena mulai dari ke-

ahlian praktis, konseptual, atau erotis,

hingga ke lukisan kuda, dan dari "galeri

seni" hingga ke gaya hidup. Definisi "seni"

di masa modern mencakup hal-hal seperti

kegiatan melukis, mematung, mencetak,

dan sebagainya, yang diakui sebagai ben-

tuk produksi yang mengombinasikan kerja

manual dengan nilai estetika dan etika, dan

dilakukan oleh orang yang memiliki bakat

khusus (\Tittkower dan'Wittkower, 1963).

Kategori "seni" ini, setelah ia dikonso-

lidasikan dan direproduksi sebagai prak-

tik kesenian, kurator, sejarah seni, dan

sebagainya, berfungsi secara retrodiktif

(retrodictiuely). Materi-materi seni, yang

berasal dari waktu yang berbeda, tempat

berbeda, atau terpisah secara sosial, kemu-

dian dikumpulkan dan dijual, dipamerkan,

atau dikritik secara formal. Galeri-galeri

nasional mulai didirikan pada abad ke-19

atau sesudahnya, seperti Louvre di Paris,

dan banyak benda dikelompokkan sebagai

benda seni di galeri itu meski pada saat

benda itu diproduksi ia tidak dianggap se-

bagai benda seni. Karenanya, implikasinya,

sosiologi seni besar kemungkinan meng-

hadapi objek pengetahuan yang akan terus

bermasalah dari sudut pandang kekhusus-

an historisnya. Sosiologi semacam ini cen-

derung menolak gagasan Kantian tentang

seni sebagai objek penilaian estetika yang

netral dan kategoris, dan ia lebih bertujuan

menjelaskan, ketimbang menyepakati, ide

kreativitas artistik dan personalitas sebagai

kondisi sosial penting. Keduanya harus

dilihat sebagai manifestasi spesifik dari

kondisi sosial, dan itulah mengapa, seperti

dikatakan Pierre Bourdieu (1980, h.2071,

"Perkawinan sosiologi dan seni menghasil-

kan rumah tangga yang buruk."

Karenanya akan berguna untuk me-

mikirkannya dari segi perkembangan dari

pemikiran Marx dan Engels (1845-6) ten-

tang aspek ekonomi politik dari kebuda-

yaan ke kritik sistematis Bourdieu terhadap

penilaian Kantian, atau dekonstruksi femi-

nis terhadap kreativitas sebagai kategori

yang secara historis didasarkan pada gen-

der, atau penolakan nilai artistik "Barat"

pascakolonial (Bourdieu, 1.979; Nochlin,

L989; Pollock, 1988; Said,1978; Tickner,

1988). Aspek penting dari sosiologi seni

adalah hubungan oposisionalnya terha-

dap apa yang dianggap sebagai AesrHlrrca

konservatif, entah itu diartikulasikan me-

lalui rasionalisme filosofis arau melalui

tuntutan pasar seni. Jika diletakkan dalam

bidang politik yang sangat kompleks dan

terdiferensiasi, sosiologi seni bertujuan

menunjukkan bahwa "seni" sebagai kat-

egori akan selalu, dan dalam banyak hal,

dikendalikan. Pada saat yang sama sosi-

ologi seni terus mengkaji problem spesifitas

seni dan persoalan penjelasan menyeluruh

terhadap makna seni (Wolff, 1981.; Fran-

castel, 1965; Duvignaud, 1967; Raphael,

le68).

Keretakan dalam karakteristik subjek

ini akan lebih jelas jika ke dalam kategori

seni itu dimasukkan pula Musrc dan Lnsn-

AruRE. Sekarang basis paradigmatik untuk

sosiologi seni dianggap tak terpisahkan

dari problem cara menyusun teori unsur-

unsur dari bentuk kultural modern. Ula-

san dan teori tentang formasi kebudayaan

modern dari penyair abad ke-19 Charles

Baudelaire hingga ke tulisan Kracauer

(1937), Bloch (1985), dan Adorno (L963)

difokuskan pada bentuk musikal sebagai

model diskursus artistik. Karya Lukdcs

(1,9701 dan Goldman (1967) menyediakan

metode yang darinya sosiologi seni men-

gambil banyak prinsip dasarnya. Jadi,

sejarawan seni seperti T.J. Clark (1973)

yang bersama dengan Manet dan Courbet

menempatkan teori di puncak agenda seni-

historis, dengan menyandarkan diri pada

bidang teoretis di mana seni visual masih

menempati posisi marginal.

Konsepsi "seni" jr'tga distratifikasi-

kan oleh gagasan seperti "seni populerr"

"seni untuk rakyat", "seni tradisional"

atau "seni etnis", dan bahkan "seni poli-

tik" atau "seni wanita". Untuk mema-

hami semua jenis ini, dan hubungan di

antara mereka, mungkin membutuhkan

bermacam-macam metode penelitian yang

mengombinasikan etnologi, psikologi

atau psikoanalisis dengan aspek-aspek

dari metode sosiologi yang berbeda-beda.

Dalam karya sejarawan sosial, "seni" seb-

agai elemen ritual di kalangan petani pede-

saan, atau sebagai praktik religius longue

dur6e, merupakan objek analisis yang

berbeda dari "seni" yung sebagai nilai so-

sial sebagaimana dipahami oleh Bourdieu

(1,979) dan Moulin (1967). Memang su-

lit untuk menganggap bahwa bentuk seni

tradisional seperti ex-uoto (lukisan sebagai

ucapan terima kasih) di Perancis abad 18

(Cousin, 1980) sebagai seni yang termasuk

dalam formasi kultural yang sama dengan

seni salon kontemporer, apalagi mengang-

gapnya sebagai seni yang sama dengan seni

lukisan auant-garde modern. Akan tetapi,

kita harus mengasumsikan bahwa studi

sosiologis terhadap semua bentuk seni ini

akan memandang nilai estetika sebagai ba-

gian dari sistem keyakinan yang mendasari

karya individual.

Dalam karya sejarawan seni sosial An-

tal (1948) dan Klingender (1968), pemaha-

man seni membutuhkan diferensiasi yang

radikal dan halus antara publik, patronase,

dan kondisi produksi untuk karya seni

yang berbeda jenisnya. Florentine Paint-

ing karya Antal dan Art and the Industrial

Reuolution karya Klingender menunjuk-

kan bentuk baru sejarah sosial sebagai

sejarah seni-di mana seni lebih berperan

sebagai penanda (signifier) ketimbang seb-

agai ilustrasi. Praktik seni di Florence abad

ke-14 atau Inggris abad ke-19 menjadi

contoh utama dari proses formasi dan rep-

resentasi sosial.

Menurut Baxandall (1980), dalam

karyanya tentang seni patung Jerman abad

ke-15, bahkan fungsi si pembuat karya di-

anggap sebagai efek dari kondisi produksi

yang tidak merata dan kompleks, dan

efek dari perseteruan kepentingan antara

seniman dan patron. Pematung memberi

tanda pada karyanya untuk menunjukkan

posisinya dalam hubungan yang tidak seja-

jar dengan patron yang memiliki alat-alat

produksi. Tanda itu merupakan semacam

pengambilan kekuasaan ketimbang seba-

gai lokus kreativitas. Karya Baxandell

menunjukkan cara di mana proposisi

teoretis dari Foucault (1.969) dapar dikaji

ulang melalui proses historis jangka pan-

jang. Tetapi, karya ini juga menunjukkan

bahwa kritik historis dan sosiologis terha-

dap ide "seniman" membutuhkan berba-

gai macam teknik penelitian yang cermar.

Pemahat abad ke-15 tidak bisa dimasuk-

kan dalam kerangka yang sama dengan

"jenius gila" abad ke-18 seperti Vincent

van Gogh. Bahkan jika keduanya bisa dil-

etakkan dalam kerangka sistem keyakinan

modern tentang seni, kekhususan sejarah

mereka, sebagai sistem itu sendiri, harus

dibedakan dengan hati-hati.

Barangkali juga bisa dikatakan bahwa

perhatian sosiologis yang lebih luas ter-

hadap seni sudah ada sebelum munculnya

istilah sosiologi dan gagasan modern ten-

tang seniman. Aspek prasejarah ini dapat

ditemukan dalam diskusi dari French Roy-

al Academy di abad ke-18 di mana saat itu

lazim untuk menjelaskan supremasi seni

Yunani kuno dengan menunjukkan bahwa

bangsa Athena adalah masyarakat yang

makmur dan sehat. Argumen Akademi

yang ditopang oleh kategori di luar esteti-

ka, seperti iklim, koherensi tatanan sosial,

dan kebijakan patron, guna menjelaskan

dan mendefinisikan kualitas artistik yang

berkembang bersama dengan relativisme

kultural dan materialisme dalam karya

Montesquie atau Diderot. Pada akhir

abad, pembela teokrasi Louis de Bonald

juga mampu menjelaskan perubahan ar-

tistik yang pada gilirannya bisa menjusti-

fikasi kebutuhan akan adanya kontinuitas

sosial (Reedy, 1.986).

Pada 1840-an, ketika artis ekspresif

mulai mengemuka, karya seni dibaca se-

bagai semacam gejala sosial. Proudhon,

dengan karyanya Du Principle de I'art et

de sa destination sociale (1865), adalah to-

koh utama yang mencoba mengkonstruksi

sejarah seni modern. Interpretasinya atas

karya seni dari seniman seperti Jacques-

Louis David dan Gustave Courbet mengar-

tikulasikan teori sosial dan politik umum.

Pada pertengahan abad, baik di Perancis

maupun Inggris, seseorang umumnya bisa

membaca sejarah seni, kritik seni, atau

esai tentang seni rakyat, dan juga diskusi

tentang kemajuan industri atau [.Jniuersal

Exhibitions, yang menggunakan beberapa

sistem referensi sosial dalam memahami

seni sebagai penanda zaman. Dapat di-

katakan bahwa konsep seni sebagai ses-

uatu yang inheren dalam konteks sosial

telah menyebar sejak 185O-an. Seperti

dikatakan Thor6-Burger dalam ulasannya

terhadap Parisian Salon 1855, "Bukankah

seni itu sendiri merepresentasikan tradisi

historis, kehidupan riil dari orang-orang?"

Akan tetapi, perlu ditekankan bahwa

banyak teks yang menjelaskan seni dalam

term sosiologis tidak mengelaborasi so-

siologi seni sebagai tujuan primer. Jadi,

karya Champfleury (1869) rentang seni

rakyat Perancis atau karya'Wagner (1849)

tentang asal usul rasa dan ekspresi artistik,

difokuskan pada problem pendefinisian

Currunn nasional. Pengkajian seni sebagai

bagian dari pembentukan kesadaran nasi-

onal muncul lagi pada I920-an dan 1,930-

an. Di Italia, Gramsci 91985) memahami

konsumsi komik detektif dan opera sebagai

tanda kelemahan dalam formasi kelas pro-

letar, sedangkan di Jerman ide seni modern

sebagai tanda dekadensi terus dielaborasi.

Pada titik tertentu dalam perkembangan-

nya, sosiologi seni amat dipengaruhi oleh

beragam diskursus tenrang sosiabilitas

seni.

Sosiologi seni yang berpotensi siste-

matik secara umum diakui mulai terlihat

dalam tulisan Marx dan Engles dan tulisan

sejarah seni dan literatur karya Hyppolite

Taine. Taine terkenal buruk karena formu-

la deterministik "lingkungan, ras dan mo-

men" (Taine, 1853), yang sudah muncul di

abad sebelumnya, tetapi pengaruh Taine

dalam sosiologi profesional atau dalam

sejarah sosial kruang signifikan dibanding-

kan Marxisme. Dalam German ldeology,

Marx dan Engels berusaha menjelaskan

kekuasaan dan signifikansi seniman Re-

naisans seperti Raphael dalam term proses

historis kompleks:

Raphael dan kebanyakan seniman lain

dipengaruhi oleh kemajuan teknik dalam

bidang seni, oleh organisasi masyarakat

dan divisi kerja di lingkungannya, dan

terakhir, oleh divisi kerja di seluruh

negeri yang punya hubungan dengan

lingkungan rempar dia berada.

Marx dan Engels di sini menenrang

gagasan individual ,,unik,' yang diusul_

kan oleh Max Stirner, tetapi dalam meng_

ajukan penentangan ini mereka mulai

memetakan kerangka hubungan sosial dan

ekonomi yang membentuk sebagian dari

struktur konseptual sosiologi seni di masa

sekarang.

Mereka juga berusaha mendefinisi_

kan seni sebagai mode produksi spesifik,

dengan menunjuk pada penjualan media

pers kapitalis pada 1830-an dan 1g40-an

sebagai pembuka munculnya novel ber-

seri. Dalam Theories of Surplus Value, di

mana diskusi ini dikembangkan, mereka

meletakkan dua parameter yang bertahan

sampai kini. Salah satunya adalah kajian

atas seniman sebagai tipe pekerja tersen_

diri yang pada dasarnya adalah .,tenaga

kerja yang tidak produktif',. yang kedua

adalah kajian atas "komodifikasi,' seni

tindakan kapitalisme yang mengkonversi

status historis seni menjadi sekadar ba-

rang jualan atau pertukaran, entah itu dari

segi uang atau ideologi (Marx dan Engels,

1,976). Di sini sekali lagi merupakan titik

awal untuk diskusi tentang relasi seni dan

masyarakat yang berbeda dengan diskusi

yang dilakukan oleh Gyorgy Luk6cs, The-

odor Adorno, Walter Benjamin, atau pierre

Bourdieu. Sosiologi seni mungkin berada

di pusat Marxisme abad ke-20. Tetapi,

konsep alienasi yang menjadi dasar kesedi-

aan Benjamin menerima definisi populer

dan dasar dari definisi Adorno tentang seni

sebagai negasi kekuatan sosial yang meng-

hasilkannya.

Belakangan ini, dalam tulisan Jacques

Ranci6re, negativitas Adorno dipakai un-

tuk mengevaluasi kembali estetika Kan-

tian. Jika aspek transenden dan negatif

tersebut dapat dibaca melalui satu sama

lain, maka harapan akan seni harus dipa_

hami dalam term negasi atas struktur sos_

ial (Ranci6re, 1983). Dari sudut pandang

ini, penjelasan Bourdieu tentang produksi

dan konsumsi seni sebagai konfirmasi dan

reproduksi status sosial ternyata tidak me_

madai untuk menjelaskan kompleksitas

identitas sosial, dan menyebabkan sosiolo_

gi seni terkesan sebagai ilmu yang kosong.

Secara analog, baik itu diskursus feminis

maupun pascakolonial menunjukkan bah_

wa sosiologi seni harus dikaji ulang secara

radikal. Pemahaman seni sebagai bentuk

dominasi atau sebagai cara untuk menaik-

kan nilai/status sosial adalah pemahaman

yang merigandung banyak tafsir dan ter_

buka, selalu terbaras dan terus dikaji ulang

dalam kondisi sejarah tertentu.

Dalam esai tahun 1923,..On rhe in_

terpretation of 'Webanschaxtung,,, Karl

Mannheim menjelaskan problem ini dalam

sosiologi kebudayaan (dalam Mannheim,

1952). Dia menolak prosedur reduktif

analisis kultural yang diambil dari model

ilmu alam, dan dia berusaha menunjukkan

bagaimana pemahaman rentang makna

"objektif", "ekspresif", dan ..dokumenter"

dari objek kultural akan menghasilkan

pemetaan kompleks dari hubungan totali_

tas sosiokultural yang paralel, tetapi tidak

selalu bersifat kausal. Metode rumit yang

diusulkan Mannheim untuk menganalisis

kebudayaan secara keseluruhan itu jelas

membutuhkan keahlian yang sama dengan

keahlian analisis dari mazhab Sejarah Seni

'Warburg. Studi lukisan Botticelli (\find,

1958), misalnya, membutuhkan penge-

tahuan tentang sosiabilitas level kultur

yang berbeda-beda, mulai dari fenomena

keseharian sampai ke ulasan atas teks-teks

klasik. Karya seni yang istimewa menjadi

titik di mana bentuk pengetahuan tertentu

dan praktik kultural menemukan artiku-

lasi totalnya.

Tetapi, walaupun pendekatan ini ber-

manfaat untuk menarik makna suatu

karya seni berdasarkan data sosial atau

untuk memahami kondisi sosial berdasar-

kan kajian karya seni, gagasan tentang ob-

jek kultural sebagai ekspresi totalitas atau

sebagai "fakta sosial total" telah menjadi

bahan perdebatan. Karya seni mungkin

termasuk dalam satu atau lebih ienis pen-

getahuan. Jadi pemahaman publik atas

Ir",u lukisan bisa dimasukkan ke dalam

kajian psikoanalisis, yang tersirat dalam

mode scopophilia' tanpa perlu menggu-

nakan kaiian stratifikasi sosial' Atau' ba-

rangkali dimasukkan sebagai kaiian atas

kelJmpok sosial yang memiliki askes ke

pasar seni dan ingin menaikkan gensinya

i.rrg"n membeli karya seni' Dua lukisan

yang sezaman mungkin diterima secara

irnr, -.n.mpati posisi yang sama dalam

bahasa tanda visual, tetapi sekaligus mung-

kin berasal dari perkembangan pendidikan

seni serta sistem produksi dan distribusi

yang berbeda. Kritik seni barangkali bisa

dipahami dari segi hubungannya.dengan

diskursus sastra dan politik dan dari segi

tuiuan kritik itu. Perkembangan dan kon-

figurasi seiarah sosial dan sosiologi seni

di masa depan mungkin akan tergantung

kepada p.nguk.,n" akan diversitas prob-

lem yant ada di dalamnya' Agar bisa ber-

guna, kntya interdisipliner mungkin harus

L.t.ri-t bahwa perbedaan itu lebih ter-

struktur ketimbang totalitas'


art, sociology of / sosiologi seni

Title Post:
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Author:

Terimakasih sudah berkunjung di blog SELAPUTS, Jika ada kritik dan saran silahkan tinggalkan komentar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

  © Blogger template Noblarum by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP  

ad8d337c32e240c9ae465ea741f05202 submit to reddit