Selasa, 18 Januari 2011

APA SEBENARNYA ARTI ALTRUISME (ALTRUISM)

Istilah ini merujuk pada tindakan-tindakan kebajikan. Para orang tua mengorbankan diri sendiri demi anak-anaknya. Pemberian dan pembagian hadiah sifatnya universal. Orang menolong mereka yang dirundung malang, mendonorkan darah, dan bahkan organ tubuh kepada orang lain selagi mereka masih hidup. Dalam Perang Dunia Kedua sejumlah orang nekad menyembunyikan kaum Yahudi dari kejaran NAZI dengan resiko nyawa mereka sendiri. Di tahun 1981 para pemogok makan IRA tewas dalam mempertahankan tuntutannya.

Teori-teori tentang asal-usul perilaku altruistik semacam itu, yakni tindakan seseorang yang dengan rela mengorbankan sesuatu untuk orang lain, telah muncul dari pokok-pokok evolusi maupun budaya. Evolusi Darwin umumnya disama-kan dengan persaingan untuk mempertahankan eksistensi, sedangkan teori-teori yang muncul sejak 1960-an memperlihatkan bahwa altruisme terhadap sanak-keluarga (Grafen 1991; Hamilton 1964) dan altruisme timbal-balik (kerjasama) antara individu-individu yang tidak punya hubungan (Axelrod 1984) sama-sama didukung oleh seleksi alam dalam kondisi-kondisi tertentu. Altruisme yang ditujukan kepada sanak-keluarga didukung karena sanak-saudara memiliki peluang yang tinggi untuk membawa gen-gen yang menentukan sifat tidak egois dari para altruis. Ini artinya, jika hilangnya kekuatan altruis diimbangi dengan menguatnya sanak-saudaranya (dikurangi peluang bahwa gen-gen tersebut dibawa oleh sanak-saudara itu), gen-gen yang mendorong individu-individu untuk berlaku altruistis akan turun pada mereka semua dan meluas kepada populasi. Sifat universal dari mendahulukan sanak-keluarga ini barangkali merupakan hasil dari kekuatan-kekuatan evolusi semacam itu. Masalah bagi evolusi altruisme di antara individu-individu yang tidak berhubungan darah adalah adanya sifat curang, di mana ada pihak yang menerima tanpa memberi sama sekali. Namun bila kecurangan itu bisa dihukum, dengan bantuan analisis teori permainan, akan terlihat bahwa pembalasan yang setimpal, di mana altruisme dibalas dengan altruisme dan kecurangan dibalas dengan kecurangan, bisa menghilangkan egoisme (Axelrod 1984). Bila setiap orang bisa membalas secara setimpal maka egoisme tidak pernah muncul. Namun analisis ini tak bisa menjelaskan altruisme di antara mereka yang asing satu sama lain, karena balas-membalas yang diramalkan itu hanya bisa terjadi kalau mereka sering berinter-aksi. Model yang lebih umum adalah model di mana pengorbanan diri diturunkan lewat budaya dan menguntungkan kelompok sosial tersebut. Di sini anak-anak mengambil perilaku orang dewasa yang paling umum sebagai model peran. Konformisme semacam ini sendiri diuntungkan oleh seleksi alam (Boyd dan Richerson dalam Hinde dan Groebel 1991). Model ini cocok dengan kecenderungan yang terlihat di mana orang mendahulukan kelompok sosialnya sendiri, dan dengan gejala etnosentrisme dan xenofobia. Model-model ini tidak menjawab pertanyaan psikologis tentang apa yang memotivasi seseorang untuk berlaku altruistik. Pertanyaan ini menjadi pokok studi tentang sifat manusia sejak zaman dulu. Para filsuf tidak pemah sepakat apa-kah dorongan yang berakar dalam tindakan manusia bersifat egoistis atau altruistis dan akibatnya terhadap aneka kemungkinan kewajiban etis dan politis. Dalam pandangan hedonistis, semua perilaku dimotivasi oleh hasrat menghin-dari rasa sakit dan mengejar rasa senang, sehingga altruisme pada hakekatnya bersifat egois. Akan tetapi, jika pendirian yang dipegang adalah bahwa-sanya tercapainya tujuan adalah hal yang menyenangkan, maka hedonisme justru menjelaskan altruisme namun tidak melihat hal-hal menarik di mana dalam hal ini tujuan adalah menolong individu yang lain, dan tujuan itu tetap tercapai kendati dengan menanggung sejumlah beban sebagai ongkosnya. Pertanyaan yang masih tetap sulit dijawab adalah apakah tindakan-tindakan altruistik dilakukan untuk meringankan pende-ritaan orang lain atau merupakan nuansa kesedihan yang biasa menyertai rasa empati kepada seorang korban. Para psikolog sosial yang telah menguraikan motivasi-motivasi yang saling terkait ini menemukan hasil-hasil berlawanan (Fultz dan Cialdini, dalam Hinde dan Groebel 1991), kendati orang-orang yang berempati cenderung lebih banyak memperlihatkan perilaku menolong.

Selain itu, orang tetap saja bisa menolong bahkan ketika mereka percaya bahwa orang lain toh tidak akan tahu kalau seandainya mereka tidak melakukan hal itu, menunjukkan bahwa opini yang baik dari orang lain tidak selamanya merupakan motif bagi altruisme. Kecenderungan altruistik dalam masyarakat-masyarakat Barat ditumbuhkan sejak kanak-kanak dengan pengembangan empati, pengajaran moral dan kemampuan melihat dri sudut-pandang orang lain. Pendidikan semacam ini meninggalkan bekas terutama pada anak-anak yang orang-tuanya penuh perhatian dan mendukung, yang memiliki standar moral yang jelas, mengarahkan mereka tanpa menggunakan cara hukuman, mendorong sikap tanggung-jawab, dan orang tua itu sendiri juga altruistik. Namun mekanisme semacam ini tidaklah universal sifat-nya; sebagai contoh, pada masyarakat Utkuhikha-linmiut, sebuah kelompok etnik Eksimo, kebaikan diajarkan sebagai respon terhadap rasa takut mencerminkan bahwa orang-orang dewasanya' berusaha mengurangi potensi pertentangan dengan cara menakut-nakuti. Di antara berbagai budaya, norma-norma peri-laku altruistik tidaklah sama — misalnya, individualisme masyarakat Barat bertolak-belakang dengan kolektivisme Jepang dan Cina— dan tumbuh-berkembang sesuai dengan apa yang diajarkan semasa kanak-kanak. Altruisme agaknya lebih dihargai dalam masyarakat egalitarian berskala kecil, di mana persaingan memperebutkan sumber daya tidaklah ketat atau lingkungan alamnya sedemikian rupa sehingga memaksa semua orang bekerjasama.

social psychology; sociobiology; trust and cooperation, analysis

Title Post:
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Author:

Terimakasih sudah berkunjung di blog SELAPUTS, Jika ada kritik dan saran silahkan tinggalkan komentar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

  © Blogger template Noblarum by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP  

ad8d337c32e240c9ae465ea741f05202 submit to reddit