Selasa, 18 Januari 2011

PENYEBAB DAN CARA MENGATASI KECEMASAN BERLEBIHAN (ANXIETY)

Istilah "kecemasan" (anxiety) dewasa ini dipakai dalam ilmu psikologi dan psikiatri untuk menyebutkan paling tidak tiga konstruksi yang saling berkaitan, kendati secara logika berbeda satu sama lain. Kecemasan paling sering dipakai untuk menerangkan suatu kondisi atau keadaan emosi yang tidak enak, tapi istilah ini pun dipakai bagi proses psiko-fisiologis kompleks yang terjadi akibat stress. Selain itu, konsep kecemasan meng-acu kepada perbedaan kecenderungan perasaan cemas pada masing-masing orang akibat pengaruh kepribadian. Kecemasan bisa dibedakan dari bentuk-bentuk emosi tak menyenangkan lain seperti kemarahan, kesedihan atau duka-cita, dari kombinasi yang unik dalam perwujudan pengalaman, aspek psikologis dan perilaku yang ditimbulkannya. Perasaan cemas ditandai dengan perasaan-perasaan subyektif berupa ketegangan, ketakutan, gugup, dan khawatir, serta dengan aktivasi (rangsangan) dan pelepasan sistem otonom kegugupan. Perasaan tersebut bisa berubah-ubah intensitasnya dan berfluktuasi terhadap waktu sebagai fungsi dari besarnya stress yang diderita seseorang. Ketenangan dan kedamaian menandakan tidak adanya kecemasan; ketegangan, rasa takut dan gugup muncul pada tingkat kecemasan sedang; rasa takut, tegang, dan panik yang amat sangat menunjukkan kecemasan tingkat tinggi. Perubahan psikologis yang terjadi dalam keadaan cemas antara lain adalah naiknya detak jantung, cucuran keringat, ketegangan otot, nafas yang tidak teratur (hyperventilation), pembesaran pupil mata dan rasa kering di mulut. Bisa juga muncul pusing kepala, mual-mual, dan gangguan otot dan tulang seperti gemetaran, gemeletuk, merasa lemas dan tak bertenaga. Orang-orang yang mengalami kecemasan umumnya bisa menerangkan perasaan-perasaan subyektif mereka dan melaporkan intensitas serta jangka waktu terjadinya reaksi emosional yang tidak enak ini.

Perasaan cemas muncul manakala seseorang menganggap atau menafsirkan bahwa suatu rangsangan atau situasi bisa membahayakan, mengancam atau mengganggu mereka. Intensitas dan jangka waktu terjadinya perasaan cemas itu akan sebanding dengan besarnya ancaman situasi yang dihadapi orang itu dan setara dengan penafsirannya bahwa situasi itu mengancamnya. Penilaian bahwa situasi tertentu adalah berbahaya juga tergantung pada kemampuan, kecakapan, dan pengalaman orang itu di masa lalu. Perasaan cemas mirip dengan reaksi-reaksi ketakutan, yang secara umum didefinisikan sebagai reaksi-reaksi emosional untuk mengantisipasi serangan atau rasa sakit yang ditimbulkan oleh bahaya eksternal. Malah Freud menilai bahwa ketakutan adalah sinonim dari kecemasan obyektif, di mana intensitasnya sebanding dengan besarnya bahaya ekstemal yang menjadi pencetusnya; makin besar bahaya eksternal, makin intens reaksi kecemasan yang ditimbulkannya. Jadi, rasa takut mengacu pada suatu proses yang melibatkan reaksi emosional terhadap sesuatu yang dianggap berbahaya, sedangkan kecemasan mengacu lebih sempit lagi kepada kualitas dan intensitas dari reaksi emosional itu sendiri. Konsep bahwa kecemasan adalah suatu proses menjelma sebagai teori yang mengatakan kecemasan adalah sebuah jenjang peristiwa yang teratur dan sifatnya temporer, yang barangkali dimulai dengan rangsangan stres eksternal atau pemicu internal yang ditafsirkan sebagai bahaya atau ancaman. Di dalamnya terkandung kon-struksi atau variabel dasar berikut: penyebab stress, persepsi dan penilaian tentang bahaya atau ancaman, keadaan cemas dan mekanisme pertahanan psikologis. Ancaman menandai penilaian subyektif seseorang bahwa suatu situasi mengandung bahaya atau ancaman. Karena penilaian atas bahaya segera diikuti dengan reaksi perasaan cemas, maka kecemasan sebagai keadaan emosi merupakan inti dari proses kecemasan.

Situasi-situasi stres yang berulang-ulang dihadapi bisa melatih seseorang untuk mengembangkan respon-respon yang efektif guna mengatasi atau mengurangi bahaya itu. Akan tetapi, jika orang yang menafsirkan suatu situasi sebagai bahaya atau ancaman itu tidak mampu mengatasi penyebab stress, maka ia akan terjebak dalam manuver-manuver intra-fisik (pertahanan psikologis) untuk menghilangkan keadaan cemas itu, atau untuk mengurangi intensitasnya. Secara umum mekanisme-mekanisme pertahanan psikologis akan mengubah, mendistorsikan, atau mengatur perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, dan ingatan-ingatan bawah sadar yang bisa memicu stres. Jika mekanisme pertahanan ini berhasil, keadaan yang membangkitkan kecemasan itu akan berkurang kadar ancamannya, dan akan terjadi juga penurunan intensi-tas reaksi kecemasan. Namun mekanisme-mekanisme pertahanan nyaris tidak pernah efisien dan selalu bersifat maladaftif karena masalah-masalah yang menggarisbawahi kecemasan itu tetap tidak terselesaikan. Kendati semua orang pernah mengalami kecemasan dari waktu ke waktu, ada perbedaan mendasar antara satu orang dengan orang lainnya dalam hal kekerapan dan intensitas terjadinya hal ini. "Bakat cemas" (trait anxiely) adalah istilah yang sering dipakai untuk orang-orang yang cenderung melihat dunia dari sisi bahaya atau ancamannya, serta sering mengalami kecemasan dalam jangka waktu yang lama. Orang yang bakat cemasnya tinggi lebih rentan terhadap stres, dan mereka bereaksi terhadap rentang situasi yang lebih lebar sebagai sumber bahaya atau ancaman. Akibatnya, orang yang bakat cemasnya tinggi lebih sering mengalami kecemasan yang lebih tinggi pula intensitasnya ketimbang orang yang rendah bakat cemasnya. Lihat perbedaan antara kecemasan sebagai bakat kepribadian dan sebagai suatu kondisi emosional sementara: Nn. Smith cemas'. Dari pemyataan ini dapat ditafsirkan bahwa Nn. Smith sedang cemas atau ia sering cemas. Kalau Smith 'sedang cemas', berarti ia sedang mengalami keadaan emosi yang tidak menyenangkan; terlepas apakah ia memiliki perasaan demikian secara umum atau tidak. Kalau Smith mengalami perasaan cemas lebih sering dari orang lain, maka ia bisa digolongkan sebagai 'pencemas', di mana tingkat kecemasan rata-ratanya lebih tinggi daripada orang lain pada umumnya. Kendati barangkali Smith adalah pencemas, tapi apakah ia sekarang cemas atau tidak akan tergantung bagaimana ia menafsirkan situasinya saat ini. Ada dua kelompok penyebab stres yang dikenali, yang masing-masing berlainan impli-kasinya terhadap munculnya perasaan cemas pada orang-orang yang berbeda bakat cemasnya.

Orang yang tinggi bakat cemasnya lebih rentan menghadapi evaluasi dari orang lain karena mereka kurang percaya diri dan kurang menghargai diri sendiri. Keadaan-keadaan yang mengandung ancaman psikologis (artinya, ancaman terhadap harga diri, terutama yang mengancam ego, manakala kelayakan sebagai individu dipertanyakan) tampaknya lebih mengancam bagi orang-orang yang tinggi bakat cemasnya. Sementara keadaan-keadaan yang mengandung bahaya fisik, seperti menghadapi operasi, memicu perasaan cemas yang tinggi baik bagi orang yang tinggi maupun rendah bakat cemasnya. Mereka yang tinggi bakat cemasnya, sebagai contoh, penderita psikoneurotik atau pasien yang menderita depresi, mengalami perasaan cemas yang lebih sering daripada orang lain. Tapi orang seperti mereka pun akan membangun ke-mampuan dan pertahanan diri guna menghadapi kecemasan, yang kadang-kadang menyembuhkan mereka dari rasa cemas. Hal ini bisa terjadi bila mereka dilibatkan dalam tugas-tugas yang tidak mengancam di mana mereka sanggup mengerjakannya dengan baik, dan dengan demikian meredakan ransangan internal yang biasa menyebabkan perasaan cemas.

Title Post:
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Author:

Terimakasih sudah berkunjung di blog SELAPUTS, Jika ada kritik dan saran silahkan tinggalkan komentar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

  © Blogger template Noblarum by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP  

ad8d337c32e240c9ae465ea741f05202 submit to reddit