Selasa, 18 Januari 2011

SEJENAK BERSAMA MENGENAL ANTROPOLOGI (ANTHROPOLOGY)

SEJENAK BERSAMA MENGENAL antropologi (anthropology)

Masalah pokok dalam antropologi adalah keanekaragaman manusia. Pada abad 19, gagasan yang memandu antropologi adalah bahwasanya ada perbedaan-perbedaan biologis yang signifikan antara umat manusia khususnya dalam perkembangan otak yang menjelaskan beranekaragamnya rasionalitas, kecanggihan teknik dan kompleksitas sosial. Menurut sebuah teori, masing-masing 'ras' manusia memiliki kapasitas inheren tertentu sehingga menciptakan bentuk-bentuk budaya dan lembaga-lembaga sosial tersendiri yang canggih atau kurang canggih. Namun demikian, Diskursus ala Darwin mengisyaratkan bahwa telah terjadi gerakan evolusioner dari tipe-tipe manusia yang lebih primitif menjadi manusia yang lebih berkembang. Menurut pandangan ini, masih ada sejumlah populasi primitif, yang sifatnya masih dekat dengan primata yang menjadi nenek-moyang manusia. Juga masih terdapat populasi-populasi yang lebih berkembang, yang sudah beranjak lebih jauh dari titik awal asal-usul manusia itu. Hal ini mengisyarat-kan bahwa manusia-manusia primitif seperti orang Fugenia, Aborigin Australia, dan Bushmen Afrika Selatan secara fisik lebih terasing ketimbang manusia lain. Mereka hidup dalam masyarakat 'primitif' yang didasarkan pada kekerabatan dan agama totemik 'primitif'. Mereka amat mirip dengan nenek-moyang manusia, yang hidup sekian abad silam. Peradaban-

peradaban yang mati digali oleh arkeologi dan banyak juga masyarakat yang menjadi contoh tahap perkembangan antara manusia dan 'berkebudayaan'. Pergeseran besar dalam paradigma antropologi terjadi pada dekade pertama abad kedua-puluh ini, khususnya bila dikaitkan dengan kiprah bapak antropologi budaya Amerika, Franz Boas (1858-1942). Boas dan para mahasiswanya merupakan pelopor kritik terhadap teori rasial. Mereka berusaha menegakkan paham bahwa perbedaan-perbedaan biologis yang ada antara berbagai populasi manusia dan menjadi dasar klasifikasi rasial itu sebenarnya tumpang-tindih; klasifikasi-klasifikasi rasial itu sendiri hanya main pukul-rata dan tidak masuk akal, oleh karena semata-mata didasarkan pada ciri-ciri fenotip yang terbatas; dan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata di antara populasi-populasi itu dalam hal kapasitas intelektual. Penyebab perbedaan antara berbagai macam budaya bukanlah ras. Perbedaan-perbedaan budaya itulah yang menjadi sumber perbedaan pokok antara manusia. Dengan demikian, para antropolog pengikut Boas membedakan antara proses biologis dan proses budaya. Kebudayaan dipandang sebagai bagian dari warisan manusia yang lebih banyak diwariskan lewat proses belajar ketimbang bawaan biologis. Akan tetapi, ada dua pandangan yang amat berlainan tentang kebudayaan. E.B Taylor dan para penulis evolusionis lain biasanya memperlakukan kebudayaan atau peradaban sebagai atribut manusia yang bersifat tunggal dan kumulatif: perkembangan suatu komunitas sebenarnya terjadi sekedar karena mereka menikmati 'kultur' yang lebih baik ketimbang lainnya. Ilmuwan-ilmuwan Boasian amat kritis terhadap spekulasi-sepekulasi para evolusionis ini; dan lebih meminati masalah perbedaan di antara berbagai budaya itu. Bagi mereka, kebudayaan adalah agen perubahan yang khusus sifatnya, yang menyebabkan perbedaan di antara populasi-populasi dan merupakan penentu utama bagi kesadaran, pengetahuan dan pemahaman. Bertolak-belakang dengan para evolusionis, mereka berpendapat bahwa sejarah budaya tidaklah memiliki pola tertentu. Sebuah kebudayaan dibentuk oleh kesepakatan-kesepakatan, pertukaran-pertukaran serta perpindahan masyarakat. Setiap kebudayaan dibentuk oleh latar belakang sejarah dan geografi yang khusus. Maka tidak ada pola perkembangan yang baku, dan dengan demikian kebudayaan tidak bisa diperingkatkan sebagai kebudayaan yang maju atau kurang maju. Jika proses-proses budaya dan biologis tidak saling tergantung satu sama lain, maka sejarah budaya bisa dipelajari tanpa studi biologi tentang evolusi dan variasi manusia. Kendati Boas sendiri punya andil dalam antropologi fisik atau antropologi biologis', pendekatannya menjadi spesialisasi tersendiri di AS. Di Eropa, antropologi fisik (yang sering dicampuradukkan dengan istilah `antropologi’ berkembang secara independen dari apa yang sering disebut dengan etnologi, yakni studi tentang orang-orang/etnik. Ada sejumlah tokoh antropologi Amerika yang melihat bahwa evolusi manusia adalah tema yang menyatukan antropologi dan mereka mencoba memakai pendekatan tempat bidang', di mana antropologi budaya, antropologi fisik, arkeologi dan linguistik saling dihubungkan. Namun meningkatnya spesialisasi masing-masing bidang membuat keempat bidang itu saling memisah. Di pertengahan abad duapuluh, jalinan intelektual antara keempat bidang itu sudah mulai menyempit walaupun pengahaman mempengaruhi tetap ada. Arkeologi makin jauh dari teori kebudayaan dan sosial; pengaruh sosio-biologi mendorong sejumlah ahli antropologi fisik untuk mengangkat kembali aneka penjelasan biologis mengenai perilaku budaya. Akan tetapi secara umum antropologi kebudayaan di Amerika Utara dan antropologi sosial serta etnologi di Eropa bisa dipandang sebagai bagian terpisah dari disiplin-disiplin antropologi lainnya. Antropologi kebudayaan lebih dipengaruhi oleh perkembangan-perkembangan studi bahasa ketimbang biologi, dan antropologi sosial lebih dipengaruhi oleh teori sosial dan historiografi.

Riset etnografik Ilmuwan Eropa telah mengumpulkan segudang informasi tentang orang-orang di Asia, Amerika dan Afrika sejak abad keenam-belas, namun laporan-laporan itu umumnya tidak sistematis dan kurang terpercaya. Sejak abad kedelapan-belas, para ilmuwan semakin mencurahkan perhatian kepada studi tentang literatur dan tradisi-tradisi relijius di Timur. Tapi deskripsi-deskripsi yang terpercaya dan terperinci tentang orang-orang di luar pusat-pusat kebudayaan besar jarang ditemui, dan para ahli sejarah dunia pada zaman Pencerahan terpaksa memakai sumber-sumber seadanya yang umumnya tak memuaskan itu untuk merintis karyanya. Bahkan para Pelopor antropologi itu terpaksa melakukan dekontekstualisasi dan acapkali membuat laporan yang naif tentang adat-istiadat dan kebiasaan, tapi para pelopor ekspedisi etnografis di dekade terakhir abad 19 adalah ilmuwan-ilmuwan profesional, dan umumnya melakukan survey wilayah yang luas. Para antropolog metropolitan mulai mengorganisir pengumpulan informasi etnografis yang sistematis. Model yang mereka pakai adalah laporan-laporan lapangan para ahli botani dan zoologi, dan bentuk etnografi yang mereka sukai adalah daftar perilaku dan teknologi budaya, dan acapkali memuat pengukuran fisik serta data sejarah alam. Di awal abad duapuluh terjadi pergeseran lebih jauh, yakni kian intensifnya studistudi lapangan tentang berbagai kebudayaan. Franz Boas melakukan sebuah studi jangka-panjang terhadap penduduk asli pantai utara British-Columbia, di mana ia mengumpulkan arsip-arsip yang amat banyak tentang teks-teks berbahasa daerah dari para informan kunci. Para ilmuwan Rusia melakukan studi intensif tentang orang-orang Siberia, dan para ilmuwan Eropa mulai menerbitkan studi-studi tentang masyarakat di daerah-daerah jajahan yang beriklim tropis. Antara 1915 dan 1918 Bronislaw Malinowski (1884-1942) terjun dalam sebuah studi lapangan mengenai Kepulauan Trobriand di Melanesia, yang memperkenalkan sebuah pendekatan baru dalam riset etnografi. la menghabiskan waktu dua tahun di lapangan, memahami bahasa Trobriand dan secara sistematis bukan hanya mencatat sistem aturan, nilai-nilai, dan upacara upacara yang bersifat ideal melainkan juga praktek sehari-hari kehidupan sosial mereka. Dipengaruhi oleh sosiologi Durkheim, ia berpendapat bahwa orang-orang Trobriand telah membentuk suatu sistem sosial yang lembaga-lembaganya saling merawat satu sama lain dan berfungsi sebagai sederet kebutuhan dasar. la tidak menyajikan tata aturan sosial yang ideal, tapi justru melihat divergensi aturan-aturan dan keterlibatan perilaku strategis dari masing-masing orang untuk memperbesar keuntungan pribadi dalam praktek-praktek sosial yang ada dalam komunitas-kormunitas kecil dan homogen. Bentuk kerja lapangan semacam ini, yang belakangan disebut ‘pengamatan terlibat', mau tidak mau menjadi model standar dalam riset etnografis. Secara khusus, mahzab British dalam antropologi sosial mengeksploitasi potensi metode ini dan menghasilkan sederetan pendekatan klasik etnografi yang agaknya telah terbukti handal dan dinyatakan sebagai prestasi antropologi sosial dan budaya yang paling awet di abad dua-puluh (Iihat misalnya Firth 1936; Evans-Pritchard 1937; Malinowski 1922; 1935; Tumer 1957). Beberapa wilayah Afrika, Indonesia, Melanesia, dan Arnazon perlahan-lahan mulai terliput oleh serangkaian studi etnografi yang saling terkait, yang menjadi dasar bagi perbandingan regional yang intensif. Karya-karya etnografi yang dihasilkan antara 1920 dan 1970 umumnya memakai konsep holistik. Pemikiran yang mengarahkannya adalah bahwasanya lembaga-lembaga yang ada dalam masyarakat yang diteliti membentuk semacam sistem yang terpadu dan mengatur-sendiri. Se-bagai perangkat penelitan, tentu saja pemikiran ini bermanfaat, karena perhatian akan terarah pada kaitan-kaitan antara aneka domain kehidupan sosial dan budaya, dan menghasilkan pandangan menyeluruh terhadap komunitas-komunitas tersebut. Tetapi, perspektif ini cenderung mengabaikan sejarah dan perubahan sosial, dan tidak bisa diterapkan untuk penyelidikan tentang efek-efek lembaga-lembaga kolonial dibenturkan dengan kehidupan sosial setempat. Sejak 1960-an, para ahli etnografi kian giat mengembangkan perspektif-perspektif kesejarahan, yang tergambar pada tradisi-tradisi oral serta sumber-sumber kearsipan, khususnya setelah makin banyak studi-studi tentang masyarakat petani di Eropa, Timur Dekat serta Timur Jauh.

Perbandingan dan penjelasan Boleh jadi, etnografi merupakan bagian paling sukses dalam antropologi sosial dan budaya. Tapi apa sebenarnya manfaat yang bisa dipetik dari studi-studi etnografi yang umumnya menangani komunitas-komunitas kecil dan terasing itu? Ada empat jawaban yang bisa diberikan. Pertama, menurut pemikiran evolusionis, orang-orang yang dianggap primitif itu secara kesejarahan bisa memberikan pemahaman tentang cara hidup nenek moyang manusia. Kedua, melihat gambaran ilmu-ilmu sosial (khususnya setelah 1920), banyak ahli antropologi berpendirian bahwa penelitian dan perbandingan etnografi akan memudahkan pengembangan ilmu sosial yang benar-benar universal, yang menyentuh sekalian umat manusia, dan tidak membatasi diri pada studi-studi tentang masyarakat modern Barat. Ketiga, sejumlah ahli antropologi yang dipengaruhi oleh etnologi dan kemudian sosiobiologi, meyakini bahwasanya etnografi komparatif akan mengangkat unsur-unsur kemanusiaan yang universal. Akhirnya, para humanis, yang acapkali skeptis terhadap gene-ralisasi-generalisasi mengenai perilaku manusia, berpendapat bahwa pemahaman terhadap kehidupan yang asing itu sendiri akan banyak gunanya. Hal itu akan memperluas pengertian kita tentang maknanya bagi manusia, menambah penghormatan kita pada relativitas nilai-nilai, dan memperluas rasa simpati kita. Para evolusionis yakin bahwa sejarah sosial dan kebudayaan umat manusia bisa ditata dalam serangkaian tahap-tahap baku, kendati masing-masing populasi berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Gagasan pokok ini telah digoyah-kan oleh kritik-kritik para Boassian dan ilmuwan-ilmuwan lain di awal abad keduapuluh, tapi masih dipegang teguh oleh beberapa mahzab arkeologi dan dilanggengkan oleh penulis-penulis Marxis. Ada usaha untuk membangkitkan kembali seja-rah evolusionis yang bersifat umum dalam bentuk yang lebih canggih (seperti Geller, 1988). Ada pula studi-studi rinci tentang tipe-tipe kasus yang sengaja dirancang untuk menerangkan proses evolusi. Contohnya, Richard Lee (1979) meneliti secara rinci kehidupan ekonomi suku Kung Bushman dan secara tersurat bertujuan mencari petunjuk-petunjuk tentang cara hidup populasi zaman Upper Palaeolithic. Studinya memperlihatkan bahwa Kung bisa mempertahankan cara hidup dengan teknologi sederhana di lingkungan yang sulit, dan rincian-rincian organisasi sosial dan ekonomi Kung secara luas diambil sebagai contoh paradigmatis dari kehidupan berburu-meramu sekarang dan di masa lalu (Lee 1979; Lee dan DeVore 1968). Sebuah kritik yang kuat pengaruhnya berkata bahwa suku !Kung justni bisa dipahami dalam konteks sejarah modern mereka yang tersendiri. Mereka telah mewarisi kontak berabad-abad dengan para pastor berbahasa Bantu serta orang-orang colonial Eropa, dan cara hidup mereka menunjukkan adaptasi defensif terhadap eksploitasi (Wilmsen 1989). Ada pula yang berpendapat bahwa pemaham-an terbaik terhadap budaya !Kung adalah sebagai contoh lokal dari sebuah tradisi budaya yang khusus. sebagaimana pandangan pastor orang-orang Khoisan serta kelompok-kelompok Bushmen lainnya di Gurun Kalahari. Kritik-kritik ini mengingatkan kembali pada kritik-kritik Boassian terhadap teori-teori evolusionis pada masanya. Berkaitan dengan itu, ada tradisi pemikiran lebih menitikberatkan masalah universalitas manusia serta hubungan antara kapasitas dan bentuk-bentuk perilaku pada manusia maupun primata lainnya. Sejak pertengahan 1970-an, gerakan sosio-biologi memberi angin segar terhadap tradisi ini, dengan menggabungkan titik-berat etnologi terhadap sifat manusia dan teori seleksi: lembaga-lembaga (seperti tabu incest) bisa diterangkan dari sumbangannya terhadap evolusi. Para ahli antropologi sosial dan budaya lebih terpesona oleh keragaman adat-istiadat dan kecepatan perubahan yang bisa dialami setiap kebudayaan, dan tidak suka mengutak-atik keragaman budaya seperti yang dilakukan tradisi ini. Sebuah pendekatan alternatif tentang universalitas manusia ditawarkan oleh strukturalisme Claude Levi-Strauss, yang berpendapat bahwa proses-proses intelektual umum yang ditentukan oleh struktur pikiran manusia merupakan dasar bagi semua kebudayaan (lihat, misalnya, Levi-Strauss 1963; 1977). Levi-Strauss pernah diilhami oleh konsep linguistik struktural, namun pendekatan-pendekatannya kemudian lebih didasarkan teori-teori kognisi. Pendekatan ilmu sosial mendominasi antropologi sosial dan budaya hampir sepanjang abad duapuluh, dan bersesuaian dengan pendekatan behavioral dan positivist yang dalam ilmu sosial memang lebih diterima secara umum. Di Eropa, istilah antropologi sosial menjadi umum, dan mencerminkan pengaruh dari tradisi Durkheimian dalam sosiologi. Studi-studi etnografi umumnya ditulis dalam kerangka fungsionalis', yang mengangkat saling-keterkaitan antara lembaga-lembaga dalam sebuah masyarakat tertentu. Ada juga yang dipengaruhi aliran-aliran pemikiran Marxis pada dasawarsa 1960-an dan 1970-an. Sejak pertengahan 1980-an, pendekatan sosiologi yang sifatnya indivudualis menjadi lebih populer, namun tradisi strukturalis juga tetap bertahan.

Para ahli di Eropa kini lebih terbuka daripada pendahulunya terhadap gagasan-gagasan yang berakar dari antropologi budaya di Amerika (lihat Kuper 1992). Banyak ahli antropologi Amerika secara khusus berminat pada psikologi, dan berkembanglah sebuah spesialisasi yang ditujukan untuk menerapkan teori-teori psikologi terhadap masyarakat non-Barat. Pada awalnya minat mereka terutama adalah pada sosialisasi, namun belakangan titik-beratnya berpindah ke studi tentang kognisi (D'Andrade 1994). Ada pula usaha-usaha untuk mengembangkan tipologi-tipologi sistem sosial, agama, kekerabatan, politik, dan seterusnya (misalnya Fortes dan Evans-Pritchard 1940). Di AS, G.P. Murdock membuat semacam database lintas-budaya untuk mernudahkan pengujian hipotesis-hipo-tesis tentang hubungan antara berbagai variabel, seperti bentuk keluarga dan ekonomi, atau antara proses inisiasi para pemuda dan praktek perang, dan seterusnya (Murdock 1949). Ada pula tradisi panjang dalam perbandingan budaya regional, yang memperhitungkan hubungan-hubungan historis dan mencoba melihat kesinambungan-kesinambungannya di tingkat lokal. Boas dan para mahasiswanya cenderung menitikberatkan keragaman tradisi budaya lokal dan arah perkembangannya yang bersifat aksi-dental. Sebagian dari rekannya yang paling kreatif akhirnya melihat antropologi budaya sebagai salah satu ilmu hurnaniora, dan selanjutnya hal ini menjadi pandangan dominan dalam antropologi budaya di Amerika pada dekade-dekade terakhir abad keduapuluh. Tokohnya yang terdepan adalah Clifford Geertz, yang berpendapat bahwa secara umum penafsiran', bukan penjelasan seyogyanya menjadi tujuan yang mengarahkan antropologi budaya (Geertz, 1973). Para antropolog yang berpandangan demikian umumnya bersikap skeptis terhadap pendekatan-pendekatan ilmu sosial, agak meragukan manfaat dari tipologi-tipologi, dan menolak apa yang mereka sebut sebagai teori-teori biologi `reduksionis'. Pengaruh yang dewasa ini berkembang adalah ilmu linguistik-humanistik Edward Sapir, namun dibalikkan oleh gerakan-gerakan dalam teori di bidang linguistik, hermeneutika, dan studi literatur. Penghargaan terhadap cara berpikir yang asing juga membangkitkan pemikiran kritis dan reflektif. Tuntuan-tuntutan terhadap sikap adidaya dari para rasionalis atau pandangan ilmiah dunia Barat juga menimbulkan kecurigaan (Iihat Clifford Geerzt dan Marcus, 1986).

Perkembangan-Perkembangan mutakhir Luasnya cakupan antropologi bisa dipertahankan lantaran ambisinya untuk menjelaskan segenap keanekaragaman budaya dan biologis manusia. Catatan etnografis menyediakan dokumentasi yang kaya tentang keanekaragaman budaya manusia. Arkeologi melacak jejak-jejak sejarah manusia yang panjang. Sedangkan antropologi biologi mempelajari evolusi dan variasi biologis manusia. Ada ketidaksamaan dan berbagai derajat dalam menggunakan penelitian-penelitian empiris. Pendekatan-pendekatan evolusionis berusaha mencari tema-tema umum dalam sejarah manusia; para ahli antropologi sosial dan psikologis berkutat dalam dialog dengan ilmu sosial kontemporer, dengan menghadapkan model-model mutakhir dalam ilmu sosial dengan pengalaman dan model-model manusia dari beraneka-ragam latar-belakang budaya; dan tradisi humanis berniat menyediakan pemahaman-pemahaman fenomenologis terhadap pengalaman budaya orang-orang lain. Antropologi, yang pernah dikritik sebagai perpanjangan tangan kolonialisme, kini semakin berkembang secara internasional, dengan munculnya pusat-pusat studi di Brazil, Mexico, India dan Afrika Selatan, di mana para spesialis memusatkan perhatian pada studi-studi tentang masyarakatnya sendiri. Di Eropa dan Amerika Utara juga hidup sebuah gerakan yang menerapkan metode-metode dan pemikiran-pemikiran antropologi sosial dan budaya untuk menjelaskan dan menganalisis masyarakat Barat yang sebelumnya tidak dibahas dalam penelitian etnografi. Antropologi terapan berkembang pada tahun 1920-an, dan awalnya dipandang sebagai pe-rangkat administrasi kolonial. Dengan berakhirnya kerajaan kolonial Eropa, banyak ahli antropologi yang merambah bidang-bidang studi baru. Ada yang mulai menerapkan pemikiran-pemikiran antropologi terhadap masalah-masalah hubungan etnis, migrasi, pendidikan dan kesehatan di masyarakat mereka sendiri. Setelah komunitas-komunitas ahli antropologi lokal ber-diri di masyarakat yang dulunya dijajah, mereka semakin memperhatikan penerapan antropo-logi untuk masalah-masalah gawat di bidang kesehatan, demografi, migrasi, dan pembangunan ekonomi. Antropologi kesehatan dewasa ini adalah spesialisasi terbesar dalam antropologi sosial dan budaya, dan mayoritas doktor antropologi Amerika dewasa ini bekerja di luar dunia akademik.

Title Post:
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Author:

Terimakasih sudah berkunjung di blog SELAPUTS, Jika ada kritik dan saran silahkan tinggalkan komentar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

  © Blogger template Noblarum by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP  

ad8d337c32e240c9ae465ea741f05202 submit to reddit