Selasa, 25 Februari 2014

PENGERTIAN EKSISTENSIALISME

Tidak dapat didefinisikan dengan pasti karena banyaknya ajaran eksistensialis­me, namun ada aspek yang sama pada beberapa aliran eksistensialisme. Dapat dikatakan bahwa eksistensialisme adalah suatu gerakan pemikiran filsafat yang beranggapan bahwa segala sesuatu berpangkal pada eksistensi manusia. Sebelum eksistensialisme, eksis­tensi diartikan sebagai keberadaan. Ada anggapan bahwa esensi manusialah yang menentukan eksistensi­nya.
Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855) dianggap sumber utama filsafat eksistensialisme dengan feno­menologi dari Husserl. Gerakan pemikiran ini sangat berpengaruh di Eropa daratan pada awal abad ke-20. Si k in sebagai pemikir serius, gerakan ini juga banyak menarik kelompok massa. Beberapa filsuf eksisten­sialisme antara lain Karl Jaspers (1883-1969), Martin Heidegger (1889-1976), Jean-Paul Sartre (1905-), dan Gabriel Marcel (1889-1973), Albert Camus (1916- 1960), dan Simone de Beauvoir (1908-1986).

Walaupun terdapat perbedaan antarfilsuf, ada tema tertentu yang sama. Hubungan individu dan sistem. Bagi Kierkegaard, konsep individu dipertentangkan dengan konsep sis­tem filsafat, stereotipe, dan massa. Dalam konsep sistem filsafat, stereotipe, dan massa, individu di­pandang sekunder di bawah konsep yang memuatnya. Dalam kenyataan apa yang ada lebih dahulu, konsep tidak memadai untuk menggapai eksistensi individual yang selalu menolak konseptualisasi secara tuntas. Da­lam berbagai pemikiran lain, ditekankan keterbata­san akal budi manusia walau tidak menjadi nasional­isme.

Intensionalitas. Kecuali Kierkegaard, semua filsuf eksistensialisme kontemporer dipengaruhi gagasan intensionalitas fenomenologi Brentano dan Husserl. Konsep intensionalitas itu digunakan para eksisten­sialis, terutama Sartre, untuk menggarisbawahi per­bedaan dasar antara pengetahuan tentang diri sendiri dan pengetahuan tentang orang lain. Orang lain tidak dipandang seperti apa adanya, melainkan sebagai objek intensional dari persepsi, keyakinan, dan emosi pengamat; tetapi diri sendiri (pengamat) tidak pernah menjadi objek seperti itu. Jelas bahwa walaupun in­tensionalitas tidak lahir dari pemikiran eksistensialis, pengertian itu memperkaya pemikiran eksistensialis­me individu.
Ada dan absurditas. Pembicaraan "ada" cukup kuat dalam pemikiran para eksistensialis. Heidegger berpendapat bahwa satu-satunya berada yang diarti­kan sebagai berada adalah beradanya manusia; sehing­ga harus dibedakan antara berada (sein) dan yang berada (seinde). Yang berada hanya berlaku untuk benda bukan manusia dan terletak begitu saja, sedang keberadaan manusia disebut dasein yang berarti "ber­ada da.am dunia" dan disebut juga eksistensi. Sartre dalarr karyanya, Ada dan Ketiadaan tahun 1943, menganalisis "ada". Menurut Sartre ada dua macam "ada", yaitu l'etre en soi dan l'etrepour soi. Pertama, semacam ada pada diri sendiri, ada itu sendiri. Ke­dua, ada untuk diri sendiri, ada yang sadar akan diri­nya. Keberadaan kedua inilah keberadaan manusia. Pembahasan ada dijumpai juga pada filsuf Karl Jas­pers, Gabriel Marcel, Albert Camus.

Eksistensialisme beranggapan bahwa manu­sia merdeka sama sekali, karenanya bebas bertindak, tetapi bertanggung jawab atas pilihannya. Keadaan ini menimbulkan kecemasan, ketakutan, dan pende­ritaan mendalam pada manusia. Anggapan ini dida­sarkan pada anggapan tak tersurat, bahwa manusia itu pusat alam semesta, manusia tidak terikat pada alam. Seperti halnya anggapan bahwa eksistensi men­dahului esensi, bukan sebaliknya.

Manusia sebagai keterbukaan dan pengalaman kon­kret. Manusia dipandang sebagai keterbukaan, realitas yang masih berlangsung. Pada hakikatnya, manusia terikat pada dunia sekitarnya, terutama sesama ma­nusia; karena itu paham ini menekankan pengalaman manusia yang unik dan konkret. Dalam usaha meng­artikan pengalaman, para eksistensialis mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Heidegger memberi te­kanan pada kematian, Marcel pada pengalaman re­ligius dan mendalam, sedangkan Jaspers pada ber­bagai pengalaman hidup, seperti kematian, penderi­taan, perjuangan, dan kesalahan. Camus menekan­kan absurditas hidup manusia dan ketidakbermaknaan hidup itu. Walaupun ada beberapa kesamaan tema, karena penekanan pada keunikan individu sering kali para eksistensialis tidak sepakat tentang tema eksisten­sialisme. Kadangkala pemikiran mereka tampak jauh berbeda, bahkan bertentangan karena adanya ke­inginan menonjolkan segi khasnya. Jasa eksisten­sialisme adalah pada usaha untuk menegakkan kem­bali penghargaan pribadi dan individu. Gerakan ini bisa juga dipandang sebagai reaksi terhadap kecen­derungan idealisme maupun kecenderungan sistem dan penghancuran manusia vang mewarnai Eropa saat ini. Di Indonesia, Iwan Simatupang dengan karya sastra yang absurd menampilkan warna eksistensialisme.

Title Post:
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Author:

Terimakasih sudah berkunjung di blog SELAPUTS, Jika ada kritik dan saran silahkan tinggalkan komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

  © Blogger template Noblarum by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP  

ad8d337c32e240c9ae465ea741f05202 submit to reddit