Sabtu, 10 Mei 2014

MENGAJARKAN ANAK TENTANG APRESIASI SENI

Tujuan pembinaan kesenian dalam keluarga dan di sekolah pertama sekali bukan untuk menciptakan atau menyulap anak men­jadi seniman ulung. Orangtua dan guru cukup saja membangkit­kan minat anak terhadap seni dan kemampuan untuk menghargai dan menikmati karya seni. Karya seni harus dirasakan oleh anak sebagai suat u nilai yang melengkapi kehidupannya di samping ilmu dan agama. Untuk dapat mencapai taraf apresiasi yang memadai, anak didik perlu mengetahui empat faktor penting dalam suatu tindakan apre­siasi seni, yaitu :
karya seni itu sendiri : misalnya lagu, patung dan seterusnya, seniman yang menciptakan karya seni misalnya J.S. Bach atau Affandi, anak didik sebagai subyek penikmat seni, fungsi karya sastra, misalnya untuk mengubah masyarakat.
Pendekatan apresiatif yang menitikberatkan karya itu sendiri dise­but sebagai pendekatan obyektif.Karya seni didekati sebagai se­suatu yang otonom, berdiri sendiri. Anak langsung saja membaca karya sastra atau memandang lukisan. Anak dibiasakan dengan mendengar lagu-lagu entah klasik atau moderen. Sambil menikmati karya seni, secara keseluruhan, anak dibina perlahan-lahan untuk menguraikan bagian-bagian yang membuat karya seni menjadi indah secara keseluruhan. Karya seni dinilai dengan ukuran yang ada dalam karya itu sendiri, misalnya dalam musik : melodi, harmoni dan irama. Untuk menikmati sebuah karya seni dengan memadai kepada anak perlu juga dijelaskan latar belakang seniman sebagai pencipta. Pendekatan ini disebut sebagai pendekatan. Anak menge­tahui latar belakang kehidupan sosial dari seniman, pendidikannya dan riwayat hidupnya. Anak didik sebagai penikmat karya seni merupakan pusat perha­tian utama dalam apresiasi seni. Pendekatan ini disebut sebagai pendekatan pragmatik.Latar belakang sosial dan pendidikan akan sangat berperanan dalam apresiasi karya seni.
Dengan menikmati karya seni anak pun dapat dibina untuk melihat apa fungsi dan manfaat karya seni bagi perubahan masyara­kat. Pendekatan ini disebut sebagai pendekatan Karya seni mencerminkan kenyataan masyarakat dan mengharapkan agar setelah menikmati karya seni, anak dapat melihat peluang untuk merubah masyarakat dari yang kurang baik menjadi lebih baik lagi.
Sebaiknya empat cara ini (obyektif, ekspresif, mimetik dan pragmatik) dipakai secara integral dalam menikmati karya seni. Dalam bimbingan apresiasi seni sebaiknya dikurangi penjelasan teori dan lebih banyak mencemplungkan anak langsung dalam karya seni. Dengan demikian anak menjadi terbiasa akrab dengan karya seni. Teori hanya bersifat sebagai penunjang. Tugas orangtua dan guru dalam apresiasi seni:
-          Berilah contoh apresiasi dengan jelas kepada anak dan siswa bagaimana mestinya.
-          Jelaskan kepada anak apa akibat kekeliruan-kekeliruan dilihat dari teknik apresiasi.
-          Anjurkan kepada anak dan siswa supaya membiasakan diri untuk terus menerus melancarkan kritik terhadap diri sen­diri.
Berikan kepada anak dan siswa tugas-tugas apresiasi yang te­pat sesuai usia, pengetahuan dan kecakapannya.

Title Post:
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Author:

Terimakasih sudah berkunjung di blog SELAPUTS, Jika ada kritik dan saran silahkan tinggalkan komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

  © Blogger template Noblarum by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP  

ad8d337c32e240c9ae465ea741f05202 submit to reddit